Free Translation

December 24, 2009

Queen Seon Deok Episode 59

Faksi Bidam Berulah

Ratu, Chunchu, Alcheon dan Yushin terkejut mengetahui bahwa Sangdeudeung/ Perdana Mentri menulis perjanjian rahasia untuk merendahkan Ratu.

"Bidam!”, Chunchu percaya ini bisa saja perbuatan Bidam.

Ratu terpukul dan kecewa., badannya lemas.


Bidam merasa bawahannya ingin menjebak dia dan membuatnya jadi pengkhianat. Mereka berkata bahwa Bidamlah yang terlebih dahulu mengkhianati mereka dengan mengadakan perjanjian rahasia dengan Yang Mulia. Bidam terkejut dia tak menyangka sumpah setianya pada Yang Mulia sudah diketahui orang dan dijadikan bumerang untuk menyerangnya. Para bangsawan kecewa karena Bidam sebagai atasan mengabaikan mereka dan tidak mempertimbangkan jasa mereka dalam membuat ratu naik tahta.


Misaeng berkata bahwa mereka pun akan menyingkirkan ratu.

Chunchu mendesak Yang Mulia untuk segera menghukum Bidam karena melanggar hukum. Namun ratu meminta agar Chunchu tidak bertindak apapun mengenai hal ini tanpa ijinnya。


Bidam sangat emosi dan ingin menemui para utusan. Namun penjaga tidak mengijinkan Bidam bertemu tanpa ijin ratu. Penjaga istana melapor pada Alcheon bahwa Bidam bersikeras menemui para utusan. Chun chu menyuruh Alcheon membiarkannya.


Kelompok Bidam menginginkan Bidam berada di depan memimpin mereka. Mereka beranggapan bahwa dengan memojokkan Bidam, Bidam terpaksa akan kembali kepada mereka. Mereka merasa Bidam pantas jadi raja berikutnya karena dia keturunan raja Jinji dan Mishil. Dia juga berkedudukan sebagai Sangdeudeung dan lama menjabat jadi Ketua Sarangbyu. Lagi pula ratu memang tidak mempunyai keturunan/pewaris. (emang pantes dan masuk akal menurutku juga sebenarnya)


Bidam berkata kepada utusan Tang bahwa perjanjian itu tidak ada kaitannya dengan dirinya. Bidam meminta agar utusan mengembalikan kipas bulu itu. Utusan mengatakan kipas sudah tidak ada pada mereka. Mereka justru telah meminta penjaga menyerahkan kipas kepada Sangdeudeng. Bidam menanyai penjaga dan akhirnya mengetahui bahwa kipas itu ada di tangan Ratu.


Bidam panik dan mendapati dia mulai kehilangan kontrol dirinya, tangan bidam mulai gemetar. Bidam mengingat kejadian kelam saat dia pernah meracuni dan membunuh semua orang yang memukulnya dan mengambil sesuatu miliknya. Tangan Bidam kembali gemetar.


Bidam memutuskan untuk menemui Yang Mulia di istana.

Para bawahan dan faksi bidam tak menyangka Bidam nekad menemui ratu. Mereka mulai panik. Mereka menyiapkan pasukan untuk hal-hal yang tak terduga.


Bidam menemui ratu. Chunchu, Yushin, Alcheon memandang Bidam dengan tatapan tak percaya. Ratu mengeluarkan kipas bulu dan mengatakan sepertinya para utusan ingin menyogokmu.

Bidam mengaku dan berterus terang berkata bahwa kipas ini adalah perjanjian rahasia mereka. Bidam berkata bahwa orang-orang dan para pejabat di bawahnya telah mengetahui perjanjian rahasianya dengan ratu. Mereka merasa terancam jika Bidam berniat keluar dari politik sehingga mereka balik mengancamnya.

Chun chu masih tidak mempercayai Bidam dan menyalahkan Bidam karena bagaimanapun utusan itu tlah merendahkan Yang Mulia.

Tapi syukurlah Yang Mulia masih tetap mempercayai Bidam.

Bidam meminta Yang Mulia mempercayakan kepadanya untuk mengatasi masalah ini karena masalah ini disebabkan olehnya.


Kelompok Bidam cemas apa yang dibicarakan Bidam dengan ratu. Bidam berbohong berkata Ratu belum mengetahui adanya perjanjian rahasia. Bidam menjelaskan Ratu hanya mengira utusan Tang memberikan kipas bulu sebagai sogokan.

Kemudian Bidam mengancam kelompoknya jika suatu saat mereka berani bertindak dibelakangnya dan mengkhianatinya lagi Bidam tak segan segan menghabisi mereka di tempat.

Salah seorang Bangsawan berkata bukankah Bidam yang lebih dulu bertindak diam-diam dengan Yang Mulia.

“…Bahwa akan meninggalkan politik setelah Paduka mangkat? Saya, bidam…memang bakal melakukan hal semacam itu?”.

Bidam berkata jika mereka tidak lagi mempercayainya silakan mereka mencari pemimpin baru untuk mereka. Jika tidak mereka harus mengikuti perintahnya.


Chun chu berkata pada ratu bahwa walau Yang Mulia mempercayai Bidam tapi kelompoknya mungkin tidak mempercayainya lagi. Dan Bidam tidak akan dapat mengontrol kelompoknya lagi.

Ratu berkata dia masih memberi kesempatan kepada Bidam karena sejak dulu Bidam mengikutinya, dia kerap ditugasi pekerjaan-pekerjaan muslihat seperti itu.

Ratu sakit hati akan apa yang menimpa Bidam kali ini. Dan berharap Chunchu bersimpati pada Bidam. “Karena Dia mencintai aku, cintanya dimanfaatkan orang lain.”

“Apakah kamu mengakui bahwa Bidam dan Saya telah menderita untuk kamu?”

“Saya mengakuinya yang Mulia, tetapi saya tidak bersimpati pada Bidam. Karena Ibu Bidam, Mishil, telah membunuh ibuku, ayahku dan kakekku.”

“Bagaimanapun Bidam itu adalah musuh politik saya”, kata Chunchu.


Bidam menyeleksi para kurirnya. Ternyata dari 10 kurir hanya 3 orang yang bisa dia percaya. Sisanya mereka bekerja pada bawahannya Yeom Joong.

Kelompok Bidam mengadakan pertemuan. Mereka membahas pengganti ratu. Mereka berkata hanya ada dua calon kuat yaitu KimChun Chu dan Bidam. Keluarga Mishil tidak mungkin memilih Chunchu, karena yakin Chunchu pasti akan menghabisi mereka segera karena terlibat kematian orang tuanya. Oleh karena itu mereka sepakat mencari cara untuk bisa tetap mengontrol Bidam dipihak mereka.


Bidam mendapat informasi yg mencurigakan bahwa terjadi rekruitmen pekerja tambang besar-besar oleh Yeomjeong. Yushin juga mencurigai hal yang sama. Anak buah Yushin mencoba menyelidiki hal itu. Namun mereka diserang oleh sekelompok orang yang akhirnya diketahui ternyata orang-orang Saryangbu.

Bidam meminta Yushin mempercayainya dan menyerahkan hal itu padanya.

Malamnya Bidam dengan seorang kepercayaannya berangkat menyelinap ke pertambangan, Di sana dengan matanya sendiri Bidam melihat bangsawan kelompoknya telah merekrut prajurit ilegal dan melatihnya diam-diam.

Bidam menyesal bahwa dia ternyata telah memelihara orang-orang yang salah selama ini. Dan bidam berencana besok malam dia akan menyerang pertambangan dan menghabisi mereka semua.


Bidam menemui Yushin dan meminta tolong Yushin untuk memberinya 1000 pasukan untuk melaksanakan rencananya. Bidam bertekad untuk menyelesaikan masalah ini untuk Yang Mulia.


Keesokan paginya muncul kehebohan karena datangnya perahu yang disinyalir perahu keramat milik raja Ashoka dengan muatannya sebuah peti berisi pesan di dermaga. Kejadian ini oleh rakyat disamakan dengan pertanda baik pada era Raja Jinheung. Isi Peti dibawa ke istana. Bidam mengambil dan membacanya. Raut mukanya berubah tegang.

QSD ep. 58 QSD episode 60

No comments:

Post a Comment

Silakan tulis komennya di sini ya...

Related Posts with Thumbnails