Seol Hwa sedang berusaha menghalangi-halangi kepergian Dae Gil, ketika EopBook mengarahkan senapannya pada Daegil. Eop buk akhirnya menarik pelatuknya, tembakannya menganai dahi dae Gil. Dae gil jatuh dari kuda dan terkapar di tanah tak sadarkan diri. Seol Hwa, Choi dan Wang son mengerubutinya. Tak lama kemudian Dae Gil sadar kembali. Dia langsung berkata arah dan jarak orang yang menembaknya. Dia meminta Wangson dan Choi bergerak bersamaan ke utara dan menyergapnya dari arah kiri dan kanan. Wangson dan Choi bak jagoan (emang jagoan kita hehe) lari cepat melompati barang-barang dan bahkan naik ke atas atap mengejar penembak gelap.
Para budak itu sudah merencanakan penembakan dengan matang. Mereka telah merencanakan dengan matang dan bekerja sama. Setelah menembak dan mendapat kode dari si wanita, eopbuk turun dan dibantu temannya menyembunyikan senapan di tumpukan kayu dan ranting yang dibawanya. Dalam waktu hampir bersamaan Wang Son dan Choi datang ke lokasi. Tapi mereka tidak curiga pada budak lewat yang menggendong kayu.
Luka dae Gil dirawat oleh tetangganya yang suka merawat kuda. Katanya tidak ada bedanya mengobati kepala kuda dan kepala manusia. Dia juga minta bayaran dari Dae Gil. Dae gil kesal (disamain ama kepala kuda kali) dan mengancamnya dia bisa kena sanksi jika ketauan mengambil bayaran padahal bukan seorang tabib. Dua wanita tentangganya yang naksir Choi lega begitu tahu Choi tidak terluka apapun.(Wanita yang lebih muda ga bahwa seniornya juga menyukai choi jadi dia sering dikibulin seniornya supaya ga nyamperin Choi). Wanita yang senior menghampiri rumah dae gil, dia khawatir karena pekerjaan mereka yang mempertaruhnya nyawa. Dia lalu menawarkan akan memaksakan ayam untuk choi. Dae Gil mengeluh dia yang sakit tapi Choi yang akan diberi makan.
Wang Son tiba-tiba juga khawatir bahwa senior2nya Choi dan Dae Gil bisa kapan saja meninggal dunia. Dia meminta Dae Gil membagikan tabungan mereka yang selama ini disimpannya. Choi memarahi Wang Son. Choi dan Dae Gil berkonsentrasi untuk mengatahui siapa kira-kira dalang dan orang yang berani menembak mereka. Mereka sempet juga mencurigai Cheon Ji Ho seniornya. Choi sempat khawatir ini suatu konspirasi yang berhubungan dengan Song Tae Ha.
Wang Son pergi ke luar karena terus ditegur senior seniornya. Di luaran sudah tersebar berita Dae Gil tertembak malah ada orang yang mengiranya mati.
Di suatu tempat, Un Nyun merawat luka Tae Ha.
Tae Ha sedang tidak sadarkan diri, tetapi dia masih memegang erat goloknya. Un Nyun berusaha menyingkirkan golok itu, tapi genggaman Tae Ha terlalu kuat (dasar jagoan pingsan dan luka aja masih refleks pegang senjata).
Dalam keadaan pingsan itu Tae Ha teringat masa lalu saat dia melawan para prajurit Cina yang menyerang rumahnya. Dia sedih melihat mereka telah membantai istri dan anaknya. Ternyata bayinya masih bernafas dia menggendong di belakang dan bertempur sendirian melawan para prajurit Cina. Stelah selesai dia mendapati bayinya tidak bernyawa lagi dia menangis pilu dan menjerit.
Tae Ha mengigau dalam pingsannya. Un Nyun memegang tangannya. Tae Ha terbangun dan refleks mencengkram leher Un Nyun (kasihan prajurit emang sering mimpi buruk serasa perang terus).
Un Nyun kesakitan dan sulit bernafas, tae ha akhirnya sadar dia minta maaf karena ini kesalahannya.
"Tempat apa ini", tanya Tae Ha
"gua terpencil di kuil budha", jawab Un nyun
Rahib datang, Tae Ha berniat pergi dari situ tapi dia kembali terjatuh, badannya masih lemas karena terluka.Mereka meminta Tae Ha bersabar dan istirahat
Di ibukota pejabat Lee Gyeong Shik yang juga ayah mertuanya Hwang Chul Wong membicarakan tentang lolosnya Tae Ha. Mereka mengira Tae Ha akan ke pulau Jeju membawa anak mendiang Putra Mahkota. Hwang Chul Wong diminta mencari Dae Gil. Hwang Chul Wong sebenernya agak ragu dia ingat dulu Tae Ha pernah menolongnya dalam pertempuran. Dia merasa pernah berutang nyawa pada Tae Ha.
(episode2 awal kita melihat Hwang Chul Wong sebagai orang jahat. tapi episode ini ditunjukkan sisi lain dari Hwang Chul Wong, dia menikahi wanita dengan down syndrome, merasa berhutang nyawa, juga makan di rumah kecil seorang ibu (ibu kandung atau pengasuh?) mendengar nasehanya dan memberinya uang.)
Untuk memaksa menantunya Lee Gyong Shik terpaksa menyuruh anakbuahnya menangkapnya. anak buahnya kaget. Hwang Chul Wong akhirnya ditangkap di penjara dia sudah ditunggu musuh/budaknya dulu mau balas dendam. tapi mereka dengan mudah dikalahkannya.
Dae Gil dibawa menemui seorang pejabat (Lee Gyong Shik) dia menyuruh Dae Gil menangkap Tae Ha, jika berhasil akan memberinya uang banyak jika tidak nyawa Dae Gil taruhannya. Dia melemparkan uang pada Dae Gil sebagai persekot. (pejabat sama rakyat biasa kayak bumi dan langit gitu ya)
Dae Gil berkata pada teman-temannya bahwa dia akan mendapat bayaran besar jika mereka berhasil misinya kali ini mengejar Tae Ha. Mendengar uang jumlah besar Wang Son begitu semangat.
Choi sempat ragu karena Dae Gil berurusan dengan bangsawan/pejabat. Menurutnya para pejabat itu tak bisa dipercaya.
Akhirnya mereka memutuskan berangkat juga. Choi menyiapkan tameng rompi untuk mereka bertiga.
Mereka disertai Seol Hwa pergi naik kuda. Wang Son membonceng Seol Hwa. Dae Gil membawa mereka ke makam putra mahkota. Dia mengira Tae Ha pasti kemari (pinter jg ya). Dari jejak yang ditinggalkan, Choi menebak Tae Ha pernah ke sini satu hari setengah yang lalu. Dae Gil menemukan tumbuhan untuk mengobati luka di tempat itu. Dia pamer pada Choi bahwa Tae ha terluka berarti dia menang di pertarungan terakhir (Ga bisa dibilang menang juga, Tae Ha khan kena luka panah bukan karena Dae gil hihi)
Tae Ha bangun dari istirahatnya, Dia lalu berjalan-jalan di sekitar kuil dan memandangi Un Nyun yang sedang berdoa di kuil. Dia mulai terpesona dengan kecantikan Un Nyun.
Tae Ha kemudia pamit pergi pada rahib dan Un Nyun. Rahib mendoakannya. Un Nyun berkata lukanya masih basah Tae Ha harus berhati-hati. Tae Ha rasanya mulai berat meninggalkan Un Nyun.
Tae Ha turun gunung dan mengganti bajunya. Dia bertemu dengan orang-orang (anak buah kakaknya) yang sedang mencari Un Nyun . Dia membawa lukisan Un Nyun dan bertanya pada tae ha apa dia pernah melihat wanita ini. Tae ha berbohong dia berkata tidak.
Beberapa anak buahnya dilukai wanita yang juga mencari un nyun (wanita misterius suruhan suaminya).
Dae Gil, Wang Son dan Choi menyamakan kompasnya (profesional ya mereka) mereka menuju ke gunung (ke kuil budha sepertinya) tapi menyebar dari arah berlainan. Dae Gil meminta teman2nya jangan lengah kali ini karena lawan mereka tangguh.
Un Nyun di depan rahib melakukan ritaul potong rambut untuk melupakan masa lalu yang masih membebaninya (tentang dae gil. kemungkinan kemaren peringatan kematian Dae Gil versi Un Nyun) .Suruhan kakaknya (baek ho mungkin namanya?) menemukan Un Nyun di kuil. Dia meminta nonanya (Un Nyun mematuhi perintah kakaknya Wong Ki Yoon .
Un Nyun menolak dia mengancam anak buahnya yang berani menyentuhnya. Mereka tetap akan membawanya.
"Suami Anda juga menyuruh orang untuk mencarimu, kami akan menjaga Anda", dia membawa Un Nyun setengah memaksa
Un Nyun menolak digiring.
Song Tae ha muncul kembali dia menghadang mereka
"Bukan laki-laki namanya jika memaksa seorang wanita!" (cieee...)
"Jangan ikut campur urusan kelompok kami", baek Ho membalasnya.
Tae Ha tidak tega melihat Un Nyun digiring seperti itu. Dia akhirnya menjatuhkan anak buahnya dan melawan Baek Ho.Tae Ha berhasil menjatuhkan Baek Ho.
Stelah berhasil Tae Ha ingin pergi lagi tapi dia kembali berat meninggalkan Un Nyun. akhirnya Tae Ha mengajak Un Nyun pergi bersamanya, mereka bergegas pergi dari situ. Un Nyun sempat tersandung karena terburu-buru. tae ha spontan memegang tangannya (cieeee..). Un Nyun masih risi dia menarik tangannya kembali. Untuk selanjutnya Tae Ha memberikan ujung tongkatnya untuk dipegang Un Nyun
Choi, Wang Son dan Dae Gil bertemu di deket kuil mereka belum berhasil menemukan Tae Ha, mereka ke kuil Tae ha juga tidak ada di sana (padahal baru pergi).
Mereka mengejar Tae ha naik kuda. Seol Hwa ingin bersama Dae Gil. Seol hwa memeluk Dae Gil erat-erat yang sedang memacu kudanya. (sedih juga Dae Gil dan Un Nyun masing-masing udah jalan sama orang lain)
Tae Ha menyewa perahu dan naik perahu bersama Un Nyun. Dae Gil menemukan Tae Ha sedang naik perahu. Dia memanah Tae Ha dari pinggir sungai. Tae Ha menghadangnya dengan goloknya. Un Nyun menunduk ketakutan. Tae Ha melindungi Un Nyun di belakang tubuhnya. Dae Gil memanah lagi tapi berhasil dipatahkan lagi oleh Tae Ha. (panah dae gil ko bagus ya dia ga langsung naruh anak panah di busurnya tapi pake selongsongan dulu biar lebih akurat, teknologi awal dari senapan)
< episode 3 episode 5 >
March 3, 2010
Style episode 6
Kim Min Joon menawari Lee Seo Jung tinggal di rumahnya bersamanya. Leo Seo Jung sempat kaget.
"Kamu emang nyaman tinggal bersama dengan teman dan pacar temanmu", kata Min Joon (orang yang biasa tinggal di luar negeri emang gitu kali ya, tinggal bareng biasa, hualah gubrak).
"Aku bukan sepasang sepatu yang bisa dipindah tempat begitu saja", kata Seo Jung risi (bagaimanapun dia orang timur). "Kamu menganggapmu seperti tomat, bagaimanapun aku juga perempuan".
Setelah mencium Park Ki Ja, rupanya Woo Jin dan Ki Ja berkencan. Woo Jin dan Ki Ja bermaksud tidur di apartmen Woo Jin (yang satu lama di Inggris yang satu lama di amrik wualah). Mereka berbicara masalah pribadi, dan masalah pernikahan. Ke duanya kompak tidak memikirkan soal menikah. (tren kota besar dunia, usia matang, karir bagus tapi milih lajang dan seks bebas). Woo Jin bangun pagi hari, dia mendapati Ki Ja sudah tidak ada di sampingnya. Ki Ja sudah berangkat duluan ke kantornya.
Seo Jung terbangun hari sudah pagi, ternyata dia tertidur di depan komputer di rumah Min Joon. Mi Joon memberitahu bahwa ayah Seo Jung sudah memberi tahu bahwa setelah untuk PM Go telah selesai. Mereka bergegas bertemu ayahnya, dan mereka tampak puas dengan karya ayah Seo Jung.
Seo Jung menemui PM Go menawari (atau memohon tepatnya) untuk memakai baju rancangan Style yang dibuat oleh ayahnya.
Seo Woo Jin luluh dia bermaksud menemui ayah kandungnya yang sedang dirawat di rumah sakit. tapi dia urung karena banyak wartawan di dekat kamar ayahnya yang menggosipkan tentang hubungan dirinya dengan seorang pemilik perusahaan. Ternyata Dia menunggu di luar rumahsakit sampai sore dia menunggu hingga para wartawan pergi. Dia lalu secara pribadi menemui ayahnya. Ayahnya kembali mengatakan bahwa di asangat mencintai ibu Woo Jin dan minta Woo Jin mengambil alih Style untuk mewujudkan mimpi sang ibu.
Ki Ja masih sibuk mengkoordinasi (dan ngomelin tentunya) anak buahnya untuk menyiapkan artikel untuk edisi ke 200. Ternyata akhirnya PM Go mau memakai baju dari Style berarti dia mau diwawancarai majalah Style. Ki Ja mengerahkan anak buahnya segera mempersiapkan pemotretan karena jadwal PM Go yang padat dan terbatas. Min Joon mempersiapkan studio dan kamera, staf lain mempersiapkan setting dan make up. Seo Jung dapat tugas luar untuk mencari baju-baju yang cocok untuk PM Go. Seo Jung sudah mendapatkan beberapa baju-baju, sepatu dan asesoris , tapi dia kesulitan mendapatkan gaun utama. Majalah gosip musuh bebeyutan mereka Korean Double telah memesan semua gaun yang bagus di butik langganan mereka. Ki Ja mulai khawatir karena Seo Jung belum juga hadir padahal PM Go sudah datang ke lokasi pemotretan dan mau dirias.Seo Jung akhirnya melihat toko lain yang memajang gaun ungu cantik. Butik itu bukan mitra Style, dia memohon dengan sangat agar manager mau meminjamkan gaun itu untuknya.
Walau terlambat, kecapaian, kaki bengkak dan hidung mimisan akhirnya dia berhasil datang membawa gaun, baju dan asesoris yang diperlukan.PM Go orangnya kaku dan tomboi agak sulit mendapat pose yang bagus dan sulit tersenyum. Namun Min Joon dengan pengalamannya sebagai fotografer mampu mencandai PM Go sehingga dia bisa relaks dan tersenyum. Pemotretan sukses, Lee Seo Jung sepertinya proyeknya akan berhasil kali ini untuk dipromosikan sebagai editor (masih blom jd editor resmi karena waktu itu proyek Woo Jin gagal).
Menjelang terbitnya edisi 200 Ki Ja ternyata masih mendapat masalah. Majalah saingannya Korean Double yang gagal mendapatkan pemotretan untuk Woo Jin balas dendam. Mereka menerbitkan artikel gosip miring tentang woo Jin sebagai anak haram dari pemilik Style dan terlibat intrik di dalam Style. Berita ini memukul Woo Jin, Presdir Son juga Park Ki Ja yang perlu citra Style tetap bagus di mata rekan bisnis karena dia akan membuat pesta perayaan launching edisi 200 majalah Style.
Park Ki Ja minta Presdir menyerahkan penyelesaian masalah ini kepadanya.
Park Ki Ja menemui perwakilan Rouen di korea, Rouen ceritanya perusahaan fashion merek terkenal dunia dari Prancis yang sebagai mitra utama Style (sabangsaning Christian Dior atau Chanel kali cuma fiktif). Ki ja meyakinkan bahwa tidak perlu khawatir tentang citra Style, karenaitu adalah gosip murahan yang tidak benar seperti angin lalu.
Ki Ja menghubungi Seo Wo Jin, agar dia tidak terpengaruh untuk gosip itu dan jangan juga sembunyi, dia harus berani muncul seperti ibunya dulu sebagai topmodel. Ki Ja mengundangnya untuk hadir di perayaan launcing edisi ke 200 majalah Style.
Para staf majalah Style heboh mempersiapkan diri untuk pesta perayaan, Selain diharuskan membagikan undangan ke VIP mereka juga sibuk mempersiapkan penampilan mereka agar tidak memalukan di pesta sebagai editor majalah fashion. Para staf datang ke butik sponsor dan berebut gaun. Seo Jung sebagai orang baru di majalah ragu untuk datang ke acara pesta. Min Joon berkata bahwa bahwa Seo Jung juga harus datang dan tampil cantik. Dia yang akan mensponsori gaun untuk Seo Jung.
Park Ki ja datang ke butik langganannya untuk mencari gaun spesial dan memesan juga tuxedo untuk Woo Jin. Park Ki Ja sebenernya tidak menginginkan model gaun terbaru dia ingin gaun khusus keluaran beberapa tahun yang lalu yang hanya dibuat terbatas untuk ulang tahun majalah fashion terkemuka di amrik ke 200, rasanya cocok untuk momen Style kali ini. Tapi pemilik butik merasa gaun itu sudah sukar ditemukan walaupun di eropa sekalipun.
Semua bersiap-siap untuk datang ke pesta. Ki Ja sudah mengirimkan tuxedo untuk Woo Jin dan kembali menuliskan pesan untuk datang. Min Joon memperlihatkan gaun coklat indah untuk Seo Jung pakai. Min Joon berkata baju ini butuh beberapa hari perjalanan dari pemilik butik kenalannya di London. Hanya ada 200 dan dulu dibuat khusus untuk perayaan ke 200 majalah fashion terkemuka. (baju yang diincer sama Park Ki Ja).
Perayaan ini selain dihadiri oleh orang-orang dunia fashion juga dihadari oleh para selebritis korea, termasuk artis K Pop FT Island dan 2PM (aku ga gitu hafal sama KPop) yang akan mengisi acara. Presiden Direktor Son dan Park Ki Ja hadir dengan gaun mewah. Seo Jung dengan gaun indah dan riasan menawan datang berpasangan dengan Min Joon. Woo Jin datang sendirian.
Ki Ja mengenali busana yang dikenakan Seo Jung dan dia sangat kesal. Woo Jin hadir presdir tidak nyaman Di depan Presdir Ki Ja tidak mengakui bahwa Woo Jin diundang olehnya.
Woo Jin kesal dan dia merasa seperti orang tolol yang datang sendiri ke pesta yang tidak diharapkan. Ki Ja akhirnya memanggil Woo Jin karena mereka akan bertemu perwakilan dari Rouen. Woo jin merasa hanya dimanfaatkan oleh Ki Ja, dia marah. Min Joon juga tidak suka kehadiran Woo Jin, dia melihat tuxedo Woo Jin dan langsung menebak bahwa tuxedo semewah itu pasti dari Ki Ja.
Acara berlandung meriah. Ki Ja resmi menjadi Pemimpin Redaksi Style dan memberikan sambutan. Para staf dibagikan stiker untuk memasangkan stiker kepada hadirin dengan busana terbaik. Orang yang paling banyak tertempel stiker itulah pemenangnya dan akan mendapat hasiah tas tangan dari sponsor Rouen. Min Joon langsung menempelkan stiker pada Seo Jung. Park Ki Ja biasanya slalu mendapatkan gelar busana terbaik. Tapi kali ini para staff ingin menjaili bossnya, saat-saat terakhir lampu dimatikan mereka kompak menempelkan stiker kepada Seo Jung. Di akhir acara secara mengejutkan Seo Jung mendapat stiker terbanyak dan dia dinobatkan wanita dengan busana terbaik malam itu.
Dan hadiahnya akan diberikan oleh Pemimpin redaksi yang baru Park Ki Ja
< episode 5
"Kamu emang nyaman tinggal bersama dengan teman dan pacar temanmu", kata Min Joon (orang yang biasa tinggal di luar negeri emang gitu kali ya, tinggal bareng biasa, hualah gubrak).
"Aku bukan sepasang sepatu yang bisa dipindah tempat begitu saja", kata Seo Jung risi (bagaimanapun dia orang timur). "Kamu menganggapmu seperti tomat, bagaimanapun aku juga perempuan".
Setelah mencium Park Ki Ja, rupanya Woo Jin dan Ki Ja berkencan. Woo Jin dan Ki Ja bermaksud tidur di apartmen Woo Jin (yang satu lama di Inggris yang satu lama di amrik wualah). Mereka berbicara masalah pribadi, dan masalah pernikahan. Ke duanya kompak tidak memikirkan soal menikah. (tren kota besar dunia, usia matang, karir bagus tapi milih lajang dan seks bebas). Woo Jin bangun pagi hari, dia mendapati Ki Ja sudah tidak ada di sampingnya. Ki Ja sudah berangkat duluan ke kantornya.
Seo Jung terbangun hari sudah pagi, ternyata dia tertidur di depan komputer di rumah Min Joon. Mi Joon memberitahu bahwa ayah Seo Jung sudah memberi tahu bahwa setelah untuk PM Go telah selesai. Mereka bergegas bertemu ayahnya, dan mereka tampak puas dengan karya ayah Seo Jung.
Seo Jung menemui PM Go menawari (atau memohon tepatnya) untuk memakai baju rancangan Style yang dibuat oleh ayahnya.
Seo Woo Jin luluh dia bermaksud menemui ayah kandungnya yang sedang dirawat di rumah sakit. tapi dia urung karena banyak wartawan di dekat kamar ayahnya yang menggosipkan tentang hubungan dirinya dengan seorang pemilik perusahaan. Ternyata Dia menunggu di luar rumahsakit sampai sore dia menunggu hingga para wartawan pergi. Dia lalu secara pribadi menemui ayahnya. Ayahnya kembali mengatakan bahwa di asangat mencintai ibu Woo Jin dan minta Woo Jin mengambil alih Style untuk mewujudkan mimpi sang ibu.
Ki Ja masih sibuk mengkoordinasi (dan ngomelin tentunya) anak buahnya untuk menyiapkan artikel untuk edisi ke 200. Ternyata akhirnya PM Go mau memakai baju dari Style berarti dia mau diwawancarai majalah Style. Ki Ja mengerahkan anak buahnya segera mempersiapkan pemotretan karena jadwal PM Go yang padat dan terbatas. Min Joon mempersiapkan studio dan kamera, staf lain mempersiapkan setting dan make up. Seo Jung dapat tugas luar untuk mencari baju-baju yang cocok untuk PM Go. Seo Jung sudah mendapatkan beberapa baju-baju, sepatu dan asesoris , tapi dia kesulitan mendapatkan gaun utama. Majalah gosip musuh bebeyutan mereka Korean Double telah memesan semua gaun yang bagus di butik langganan mereka. Ki Ja mulai khawatir karena Seo Jung belum juga hadir padahal PM Go sudah datang ke lokasi pemotretan dan mau dirias.Seo Jung akhirnya melihat toko lain yang memajang gaun ungu cantik. Butik itu bukan mitra Style, dia memohon dengan sangat agar manager mau meminjamkan gaun itu untuknya.
Walau terlambat, kecapaian, kaki bengkak dan hidung mimisan akhirnya dia berhasil datang membawa gaun, baju dan asesoris yang diperlukan.PM Go orangnya kaku dan tomboi agak sulit mendapat pose yang bagus dan sulit tersenyum. Namun Min Joon dengan pengalamannya sebagai fotografer mampu mencandai PM Go sehingga dia bisa relaks dan tersenyum. Pemotretan sukses, Lee Seo Jung sepertinya proyeknya akan berhasil kali ini untuk dipromosikan sebagai editor (masih blom jd editor resmi karena waktu itu proyek Woo Jin gagal).
Menjelang terbitnya edisi 200 Ki Ja ternyata masih mendapat masalah. Majalah saingannya Korean Double yang gagal mendapatkan pemotretan untuk Woo Jin balas dendam. Mereka menerbitkan artikel gosip miring tentang woo Jin sebagai anak haram dari pemilik Style dan terlibat intrik di dalam Style. Berita ini memukul Woo Jin, Presdir Son juga Park Ki Ja yang perlu citra Style tetap bagus di mata rekan bisnis karena dia akan membuat pesta perayaan launching edisi 200 majalah Style.
Park Ki Ja minta Presdir menyerahkan penyelesaian masalah ini kepadanya.
Park Ki Ja menemui perwakilan Rouen di korea, Rouen ceritanya perusahaan fashion merek terkenal dunia dari Prancis yang sebagai mitra utama Style (sabangsaning Christian Dior atau Chanel kali cuma fiktif). Ki ja meyakinkan bahwa tidak perlu khawatir tentang citra Style, karenaitu adalah gosip murahan yang tidak benar seperti angin lalu.
Ki Ja menghubungi Seo Wo Jin, agar dia tidak terpengaruh untuk gosip itu dan jangan juga sembunyi, dia harus berani muncul seperti ibunya dulu sebagai topmodel. Ki Ja mengundangnya untuk hadir di perayaan launcing edisi ke 200 majalah Style.
Para staf majalah Style heboh mempersiapkan diri untuk pesta perayaan, Selain diharuskan membagikan undangan ke VIP mereka juga sibuk mempersiapkan penampilan mereka agar tidak memalukan di pesta sebagai editor majalah fashion. Para staf datang ke butik sponsor dan berebut gaun. Seo Jung sebagai orang baru di majalah ragu untuk datang ke acara pesta. Min Joon berkata bahwa bahwa Seo Jung juga harus datang dan tampil cantik. Dia yang akan mensponsori gaun untuk Seo Jung.
Park Ki ja datang ke butik langganannya untuk mencari gaun spesial dan memesan juga tuxedo untuk Woo Jin. Park Ki Ja sebenernya tidak menginginkan model gaun terbaru dia ingin gaun khusus keluaran beberapa tahun yang lalu yang hanya dibuat terbatas untuk ulang tahun majalah fashion terkemuka di amrik ke 200, rasanya cocok untuk momen Style kali ini. Tapi pemilik butik merasa gaun itu sudah sukar ditemukan walaupun di eropa sekalipun.
Semua bersiap-siap untuk datang ke pesta. Ki Ja sudah mengirimkan tuxedo untuk Woo Jin dan kembali menuliskan pesan untuk datang. Min Joon memperlihatkan gaun coklat indah untuk Seo Jung pakai. Min Joon berkata baju ini butuh beberapa hari perjalanan dari pemilik butik kenalannya di London. Hanya ada 200 dan dulu dibuat khusus untuk perayaan ke 200 majalah fashion terkemuka. (baju yang diincer sama Park Ki Ja).
Perayaan ini selain dihadiri oleh orang-orang dunia fashion juga dihadari oleh para selebritis korea, termasuk artis K Pop FT Island dan 2PM (aku ga gitu hafal sama KPop) yang akan mengisi acara. Presiden Direktor Son dan Park Ki Ja hadir dengan gaun mewah. Seo Jung dengan gaun indah dan riasan menawan datang berpasangan dengan Min Joon. Woo Jin datang sendirian.
Ki Ja mengenali busana yang dikenakan Seo Jung dan dia sangat kesal. Woo Jin hadir presdir tidak nyaman Di depan Presdir Ki Ja tidak mengakui bahwa Woo Jin diundang olehnya.
Woo Jin kesal dan dia merasa seperti orang tolol yang datang sendiri ke pesta yang tidak diharapkan. Ki Ja akhirnya memanggil Woo Jin karena mereka akan bertemu perwakilan dari Rouen. Woo jin merasa hanya dimanfaatkan oleh Ki Ja, dia marah. Min Joon juga tidak suka kehadiran Woo Jin, dia melihat tuxedo Woo Jin dan langsung menebak bahwa tuxedo semewah itu pasti dari Ki Ja.
Acara berlandung meriah. Ki Ja resmi menjadi Pemimpin Redaksi Style dan memberikan sambutan. Para staf dibagikan stiker untuk memasangkan stiker kepada hadirin dengan busana terbaik. Orang yang paling banyak tertempel stiker itulah pemenangnya dan akan mendapat hasiah tas tangan dari sponsor Rouen. Min Joon langsung menempelkan stiker pada Seo Jung. Park Ki Ja biasanya slalu mendapatkan gelar busana terbaik. Tapi kali ini para staff ingin menjaili bossnya, saat-saat terakhir lampu dimatikan mereka kompak menempelkan stiker kepada Seo Jung. Di akhir acara secara mengejutkan Seo Jung mendapat stiker terbanyak dan dia dinobatkan wanita dengan busana terbaik malam itu.
Dan hadiahnya akan diberikan oleh Pemimpin redaksi yang baru Park Ki Ja
< episode 5
March 2, 2010
Style episode 5
Bapak tua yang datang menemui Woo Jin sepertinya ayah biologis Woo Jin (ayah yang nelantarin dia juga). Bapak itu udah tua , sakit-sakitan dan jalannya harus di kursi roda. Bapak itu minta Woo Jin masuk ke Style karena dulu style itu ia buatkan untuk ibunda Woo Jin. Nama "Style" itu adalah usul ibunya. Walau bagaimanapun dia menyayangi ibu Woo Jin yang mau berpacaran dengannya walaupun saat itu dia sudah tua (tajir juga kali hehe). Woo Jin menolak karena merasa dia bukan keluarga mereka.
Seo Jung masih lembur di kantor , Min Joon menemuinya. Dia menyarankan
"Kalau kau penasaran tanyakan saja maksud ciuman mereka itu?", kata MinJoon. Dia juga berkata bahwa Park Ki Ja membeli sepatu hijau itu sendiri. "bagaimana alau kita juga kencan untuk membalas dendam pada mereka", canda Min Joon. Seo Jung kaget, tapi Min Joon hanya mengucek rambut SEo Jung lalu pergi begitu saja.
Min Joon sebenernya stress akan hubungan kakak senior pujaannya (Ki Ja) dan Woo Jin. Dia menari sepuas-puasnya untuk menghilangkan galau hatinya.
Pagi hari Seo Jung bangun dengan ceria dia mau mengubah diri dia menjadi baru dan semangat. dia juga mulai berusaha memperhatikan penampilannya yang cuek dan minta temannya memake up dirinya. Seo Jung datang pagi-pagi ke kantor. Ki Ja heran. Seo Jung berkata dia akan berubah mulai saat ini. Tapi tetap saja riasan wajahnya dan bajunya masih dikritik masih jauh dari standar Ki Ja.
Park Ki Ja dengan serius meeting dengan anak buahnya untuk merancang edisi khusus majalah Style. Seo Jung diminta kembali konsentrasi meliput PM wanita. Seo Jung menguntit hari-hari PM. Di sana dia kembali bertemu dengan musuh lamanya (di ep awal) yang selalu menghalanginya meliput PM.
Park Ki Ja kali ini kehilangan Min Joon yang tidak ke kantor dia mengkhawatirkannya. Ki Ja menemui Min Joon di rumahnya dan minta Min Joon tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Tapi Min Joon masih ngambek ceritanya.
Presdir Son, tau ayahnya(mungkin ayahnya?) menemui Woo Jin. Dia menekan Woo Jin bahwa dia tidak mungkin merebut Style darinya karena Style itu miliknya.
Dari presdir, Ki Ja tau sedikit banyak asal usul Seo Woo Jin, dia mengirimkan Woo Jin paket dokumen yang tentang sejarah Style. Woo Jin kesal apa lagi yang dimaui Park Ki Ja darinya.an Ki Ja berjanji dengan rekan bisnisnya di restoran Woo Jin. Dia minta dibuatkan artikel untuk edisi khusus. Setelah itu dia menemui Woo Jin. Woo Jin dengan penuh curiga menanyakan maksud Ki Ja memberinya dokumen sejarah Style.
"Apa kau tak takut aku akan menendangmu begitu aku masuk ke Style?!", kata Woo Jin sinis.
Park Ki Ja minta ruangan Pemimpin Redaksi dibereskan dari barang-barang Kim Ji Won (pemred lama) karena dia ingin pindah ke ruangan itu. Ji Won datang menengok ke kantor dan heran barangnya sudah disingkirkan Ki Ja.
"Aku hanya pergi dinas 20 hari!", Ji Won marah
"Aku pastikan setelah 20 hari juga barangmu tidak ada di sini lagi", sindir Ki Ja.
Ji Won menemui adiknya yang bekerja di majalah lain. adiknya ini musuh bebuyutannya Seo Jung. Dia meminta adiknya meliput tentang PM Go dan Seo Woo Jin karena itu yang sedang akan diliput Ki Ja. Ji Won dendam dan ingin menggagalkan rancangan edisi khusus yang dibuat Ki Ja.
Seo Jung pulang ke rumah dan mendapati Kap Joo teman sekamarnya membawa pacarnya orang asing untuk tinggal bersama mereka. Seo Jung pusing dan risi.
"Tenang saja dia bukan laki-laki dia ini orang asing", kata Kap Joo cuek.(yang laki2 juga toh haha)
Beredar berita miring tentang PM Go mengenai pakaiannya yang buruk. Ki Ja melihat ini peluangnya untuk bisa meliput PM Go. Dia menemui sekretarisnya dan berjanji akan merancangkan pakaiannya dan memohon jadwal pemotretan.
Seo Jung menengok seniornya Min Joon di rumahnya. Di sana dia sambil menyiapkan rancangan baju untuk PM Go. Min Joon memberinya saran. Ayah SEo Jung yang merupakan penjahit jas sedang ada di SEol, Min Joon dan SEo Jung minta bantuan ayahnya untuk membuatkan/mempermak Jas seperti rancangan Seo Jung.
Ki Ja mendapat laporan bahwa Woo Jin menerima pemotretan dari majalah lain dalam rangka acara amal. Dia marah merasa rencananya diserobot juga marah pada Woo Jin yang bersedia diwawancarai majalah lain (abis bukannya dulu jg sama Style artikelnya pernah gagal?!).
Dia menghampiri acara itu dan langsung melabrak majalah itu , dia juga berbicara tegang dengan Woo Jin.
Mereka lalu keluar Ki Ja memukul Woo JIn dengan tasnya dan menyindir tentang asal usul keluarga/ masa lalu Woo Jin. Woo Jin yang gantian marah dia minta Ki Ja minta maaf, tapi Ki Ja kabur. Woo Jin mengejarnya sampai tempat parkir. Woo Jin bersikukuh minta Ki Ja minta maaf tapi Ki Ja juga bersikukuh cuek. Woo Jin menarik baju Ki Ja sampai robek(atau resletingnya sampe kebuka? pokonya gitu deh). Min Joon da Seo Jung kebetulan datang berusaha melerai mereka. Tapi mereka menolak urusan mereka dicampuri.
Ki ja tiba di rumahnya dia merenung. Malamnya dia kembali menemui Woo Jin di restorannya. Ki Ja meminta maaf. Woo Jin masih kesal dan menganggap ucapan Ki Ja yang dingin hanya basa basi. Ki Ja mengaku bahwa dia sebenarnya bukan orang tanpa perasaan. Dia hanya berusaha menyingkirkan perasaan pribadi dan masalah pekerjaan. Woo Jin menganggap kali ini ucapan Ki Ja tidak ada yang ditutup tutupi dia mencium Ki Ja (wow nah loh!)
Seo Jung kembali menyelesaikan artikel bersama Min Joon di rumah Min Joon. Dia tiba-tiba berkata
"Kenapa sering terlihat Woo Jin dan Ki Ja bertengkar hebat. Jangan-jangan mereka saling jatuh cinta?"
Min Joon merenung lama sekali. Dia lalu berkata pada Seo Jung
"SEo Jung sudahlah kau tinggal saja di sini. Tinggallah bersamaku", pinta Min Joon
Seo Jung kaget dia cuma melongo...
< episode 4 episode 6 >
Seo Jung masih lembur di kantor , Min Joon menemuinya. Dia menyarankan
"Kalau kau penasaran tanyakan saja maksud ciuman mereka itu?", kata MinJoon. Dia juga berkata bahwa Park Ki Ja membeli sepatu hijau itu sendiri. "bagaimana alau kita juga kencan untuk membalas dendam pada mereka", canda Min Joon. Seo Jung kaget, tapi Min Joon hanya mengucek rambut SEo Jung lalu pergi begitu saja.
Min Joon sebenernya stress akan hubungan kakak senior pujaannya (Ki Ja) dan Woo Jin. Dia menari sepuas-puasnya untuk menghilangkan galau hatinya.
Pagi hari Seo Jung bangun dengan ceria dia mau mengubah diri dia menjadi baru dan semangat. dia juga mulai berusaha memperhatikan penampilannya yang cuek dan minta temannya memake up dirinya. Seo Jung datang pagi-pagi ke kantor. Ki Ja heran. Seo Jung berkata dia akan berubah mulai saat ini. Tapi tetap saja riasan wajahnya dan bajunya masih dikritik masih jauh dari standar Ki Ja.
Park Ki Ja kali ini kehilangan Min Joon yang tidak ke kantor dia mengkhawatirkannya. Ki Ja menemui Min Joon di rumahnya dan minta Min Joon tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Tapi Min Joon masih ngambek ceritanya.
Presdir Son, tau ayahnya(mungkin ayahnya?) menemui Woo Jin. Dia menekan Woo Jin bahwa dia tidak mungkin merebut Style darinya karena Style itu miliknya.
Dari presdir, Ki Ja tau sedikit banyak asal usul Seo Woo Jin, dia mengirimkan Woo Jin paket dokumen yang tentang sejarah Style. Woo Jin kesal apa lagi yang dimaui Park Ki Ja darinya.an Ki Ja berjanji dengan rekan bisnisnya di restoran Woo Jin. Dia minta dibuatkan artikel untuk edisi khusus. Setelah itu dia menemui Woo Jin. Woo Jin dengan penuh curiga menanyakan maksud Ki Ja memberinya dokumen sejarah Style.
"Apa kau tak takut aku akan menendangmu begitu aku masuk ke Style?!", kata Woo Jin sinis.
Park Ki Ja minta ruangan Pemimpin Redaksi dibereskan dari barang-barang Kim Ji Won (pemred lama) karena dia ingin pindah ke ruangan itu. Ji Won datang menengok ke kantor dan heran barangnya sudah disingkirkan Ki Ja.
"Aku hanya pergi dinas 20 hari!", Ji Won marah
"Aku pastikan setelah 20 hari juga barangmu tidak ada di sini lagi", sindir Ki Ja.
Ji Won menemui adiknya yang bekerja di majalah lain. adiknya ini musuh bebuyutannya Seo Jung. Dia meminta adiknya meliput tentang PM Go dan Seo Woo Jin karena itu yang sedang akan diliput Ki Ja. Ji Won dendam dan ingin menggagalkan rancangan edisi khusus yang dibuat Ki Ja.
Seo Jung pulang ke rumah dan mendapati Kap Joo teman sekamarnya membawa pacarnya orang asing untuk tinggal bersama mereka. Seo Jung pusing dan risi.
"Tenang saja dia bukan laki-laki dia ini orang asing", kata Kap Joo cuek.(yang laki2 juga toh haha)
Beredar berita miring tentang PM Go mengenai pakaiannya yang buruk. Ki Ja melihat ini peluangnya untuk bisa meliput PM Go. Dia menemui sekretarisnya dan berjanji akan merancangkan pakaiannya dan memohon jadwal pemotretan.
Seo Jung menengok seniornya Min Joon di rumahnya. Di sana dia sambil menyiapkan rancangan baju untuk PM Go. Min Joon memberinya saran. Ayah SEo Jung yang merupakan penjahit jas sedang ada di SEol, Min Joon dan SEo Jung minta bantuan ayahnya untuk membuatkan/mempermak Jas seperti rancangan Seo Jung.
Ki Ja mendapat laporan bahwa Woo Jin menerima pemotretan dari majalah lain dalam rangka acara amal. Dia marah merasa rencananya diserobot juga marah pada Woo Jin yang bersedia diwawancarai majalah lain (abis bukannya dulu jg sama Style artikelnya pernah gagal?!).
Dia menghampiri acara itu dan langsung melabrak majalah itu , dia juga berbicara tegang dengan Woo Jin.
Ki ja tiba di rumahnya dia merenung. Malamnya dia kembali menemui Woo Jin di restorannya. Ki Ja meminta maaf. Woo Jin masih kesal dan menganggap ucapan Ki Ja yang dingin hanya basa basi. Ki Ja mengaku bahwa dia sebenarnya bukan orang tanpa perasaan. Dia hanya berusaha menyingkirkan perasaan pribadi dan masalah pekerjaan. Woo Jin menganggap kali ini ucapan Ki Ja tidak ada yang ditutup tutupi dia mencium Ki Ja (wow nah loh!)
Seo Jung kembali menyelesaikan artikel bersama Min Joon di rumah Min Joon. Dia tiba-tiba berkata
"Kenapa sering terlihat Woo Jin dan Ki Ja bertengkar hebat. Jangan-jangan mereka saling jatuh cinta?"
Min Joon merenung lama sekali. Dia lalu berkata pada Seo Jung
"SEo Jung sudahlah kau tinggal saja di sini. Tinggallah bersamaku", pinta Min Joon
Seo Jung kaget dia cuma melongo...
< episode 4 episode 6 >
Style episode 4
Park Ki Ja baru mengetahui bahwa ternyata sepatu yang dipilihkannya itu untuk Seo Jung. Dia juga kesal dan tak rela memakai sepatu yang sama dengan SEo Jung. Ki Ja membuka sepatunya dan lebih memilih pulang tanpa alas kaki.
Seo Jung yang sedang kecewa artikelnya tak jadi terbit juga bertambah kesal. Min Joon heran ternyata seniornya terlalu berlebihan.
Esok hari majalah itu beredar di publik. Betapa kagetnya pemred dan woo jin. pada saat yang sama Ki Ja mencoba mendekati presdir.Presdir memberikannyauang kompensasi untuk diberikan kepada Woo JIn.
Pemred marah pada Park Ki Ja, dia menuduh park ki ja telah menusuknya dari belakang.
Woo Jin kesal karena artikelnya teryata tidak terbit, dia mendatangi Park ki Ja di kantor. Park Ki Ja masih mendendam pada Woo Jin soal sepatu itu .
Dengan dingin ia berkata dialah yang berhak menentukan artikel itu dimuat atau tidak. Dia meninggalkan uang kompensasi untuk woo jin dan pergi meninggalkan Woo jin yang sedang kesal.
Dalam keadaan kesal Woo Jin lalu menemui Seo Jung . Dia berkata tak mau lagi berurusan dengan SEo Jung. Woo JIn ingat sebenarnya dari dulu dia juga tidak mau diliput Style, ini karena Seo Jung terus membujuknya. Eh akhirnya dia malah dipermalukan.
Artikel Julia K yang ditulis Park Ki Ja, meliput rancangan yang pernah dia buat dulu juga foto model favoritnya dulu. Model itu ternyata adalah ibunda Seo Woo Jin. Presdir kesal begitu melihat model yang terpampang di artikel Julia K (ibunda Woo JIn), dia sepertinya ada dendam masa lalu dengannya. Dia merobek majalahnya dan memanggil pemred dan juga Park Ki Ja. Park Ki Ja akhirnya dipersalahkan, dia terdesak posisinya.
Seo Jung sakit dan tidak muncul di kantor. Dia cape lahir batin (makan hati terus sih) . Senior Kim Min Joon menengoknya. SEo Jung tampak pucat dan kelelahan. Min Joon membawakannya es krim dan menyuapinya. Min Joon percaya es krim bisa membuat badan lebih segar (duh jd pengen makan es krim disuapin maksudnya hehe).
Di restorannya Woo Jin melihat artikel Julia K dia melihat foto ibunya kala masih muda. Dia terharu dan tidak percaya ibunya ternyata sangat cantik. Julia menemui seseorang bapak tua, dia memperlihatnya foto ibu Woo Jin saat muda.
Park Ki Ja merenung dia akhirnya menulis surat pengunduran dirinya. Dan menyerahkannya pada pemred pagi harinya.
tapi bukan Ki Ja kalau menyerah begitu saja dia menemui teman dekat bisnis pemred dan mengancamnya soal penyalahgunaan iklan.
Presdir menemui Pemred dia memperlihat hasil audit iklan dan uang yang disetor. Pemred terbukti berkolusi dengan salah satu rekan bisnisnya.
Merasa mungkin kali ini saat - saat terakhirnya di kantor Park Ki Ja mentraktir anak buahnya makan malam. Dia sengaja memilih restoran Woo Jin (orng ini pinter bikin kesel orang hehe). Karena dipaksa Woo Jin dengan malas duduk semeja dengan mereka. Seo Jung masih stres dia minum anggur, begitu juga Woo Jin dan Min Joon. Namun seo jung yang menghabiskan wine paling banyak.
Woo Jin kesal dengan sikap Ki Ja yang dingin ingin menang sendiri, tidak merasa salah dan tak meminta maaf padanya. Mereka juga berencana pergi ke karaoke, woo jin terpaksa ikut juga. Di sisi jalan dia mengomel dan menyalahkan Ki Ja. Ki Ja yang dingin kesal juga, dia menyuruh woo Jin diam tapi Woo Jin tak berhenti ngomel. Park Ki Ja mencium Woo Jin. Woo Jin tak suka dan berusaha melepaskan diri. Ki Ja beralasan dia menciumnya karena mulut Woo Jin tak mau berhenti bicara.
Tanpa tau apa yang terjadi Seo Jung dan Min Joon kebetulan menyaksikan Woo Jin dan Park Ki Ja berciumian. Min Joon patah hati, SEo Jung walau mabuk dia juga melihatnya dan patah hati. Di tempat Karaoe Seo Jung mabuk dan menyanyi keras-keras. Min Joon kasihan melihat Seo Jung yang mabuk dan terlihat merana. Pemred Kim Ji Won yang sadar dia diserang Ki Ja datang ke tempat karaoke. Dia marah pada Ki Ja dan menyiram Ki Ja dengan es batu. Ki Ja berusaha tetap dingin dan cuek.
"Apa kamu menyukai Woo Jin", tanya Min Joon
"Ya...eh tidak", walau mabuk dia berusaha menyembunyikan perasaannya.
SEo Jung mabuk, Min Joon membawa Seo Jung ke rumahnya. Pagi harinya ketika sadar Dia stress takut diapa-apain ama Min Joon. Min Joon cuma tertawa (ga sejelek itu lah dia). Seo Jung tiba-tiba ingin ke kamar mandi, doa menjerit karena melihat Min Joon yang tengah mandi.
Mereka lalu pergi ke kantor bersama. Di mobil Seo Jung malu dan tidak mau bicara. Min Joon mencairkan suasana
"Aku khan yang jadi korban, yang dilihat olehmu. Mengapa kau yang tidak mau bicara". kata Min Joon.
Tiba-tiba Seo Jung merasa ingat sesuatu "Apa benar tadi malam aku meliat Woo Jin dan boss..."
"Sudah lupakan semua itu", kata Min joon sambil menjentikkan jarinya.
Di lift mereka bertemu Park Ki Ja. Ki Ja menyindir baju Seo Jung yang terlihat belum ganti baju. Dia mencurigai Min Joon dan Seo Jung. Seo Jung berusaha menyangkal. Namun Min Joon ingin pamer dan berkata dia semalam memang bersama Seo Jung.
Di kantor Presdir kembali memanggil pemred Kim Ji Won dan Park Ki Ja. Dia kembali mempekerjakan Ki Ja dan meminta Kim Ji Won tugas luar ke Paris untuk beberapa lama. Presdir mempercayakan edisi khusus disiapkan sepenuhnya oleh Park Ki Ja. Ki Ja sekarang merasa menang.
Seo Jung menemui Woo Jin, dia ingin mengembalikan sepatu pemberian Woo Jin. Dia merasa dipermainkan oleh Woo Jin. Selama ini SEo Jung mengira woo Jin memberikan dua pasang sepatu , satu untuknya dan satu untuk Ki Ja.Tapi woo jin tak mau menerima barang itu kembali, dia menyuruh Seo Jung membuangnya saja jika tidak mau. Seo Jung pergi , begitu melihat tempat sampah dia membuangnya. tapi dia berubah pikiran san sayang sepatu itu, dia mengambilnya kembali.
Makan malam presdir mentraktir Park Ki Ja. Dia menjanjikan Ki Ja jika majalah edisi khusus sukses dia akan dipromosikan menjadi Pemimpin Redaksi.
Malam hari seorang bapak tua yang sangat mengenal Woo Jin mengunjungi restorannya. Dia berbicara pada Woo Jin dan meminta Woo Jin mengambil alih Style.
< episode 3 episode 5 >
Seo Jung yang sedang kecewa artikelnya tak jadi terbit juga bertambah kesal. Min Joon heran ternyata seniornya terlalu berlebihan.
Esok hari majalah itu beredar di publik. Betapa kagetnya pemred dan woo jin. pada saat yang sama Ki Ja mencoba mendekati presdir.Presdir memberikannyauang kompensasi untuk diberikan kepada Woo JIn.
Pemred marah pada Park Ki Ja, dia menuduh park ki ja telah menusuknya dari belakang.
Woo Jin kesal karena artikelnya teryata tidak terbit, dia mendatangi Park ki Ja di kantor. Park Ki Ja masih mendendam pada Woo Jin soal sepatu itu .
Dengan dingin ia berkata dialah yang berhak menentukan artikel itu dimuat atau tidak. Dia meninggalkan uang kompensasi untuk woo jin dan pergi meninggalkan Woo jin yang sedang kesal.
Dalam keadaan kesal Woo Jin lalu menemui Seo Jung . Dia berkata tak mau lagi berurusan dengan SEo Jung. Woo JIn ingat sebenarnya dari dulu dia juga tidak mau diliput Style, ini karena Seo Jung terus membujuknya. Eh akhirnya dia malah dipermalukan.
Artikel Julia K yang ditulis Park Ki Ja, meliput rancangan yang pernah dia buat dulu juga foto model favoritnya dulu. Model itu ternyata adalah ibunda Seo Woo Jin. Presdir kesal begitu melihat model yang terpampang di artikel Julia K (ibunda Woo JIn), dia sepertinya ada dendam masa lalu dengannya. Dia merobek majalahnya dan memanggil pemred dan juga Park Ki Ja. Park Ki Ja akhirnya dipersalahkan, dia terdesak posisinya.
Seo Jung sakit dan tidak muncul di kantor. Dia cape lahir batin (makan hati terus sih) . Senior Kim Min Joon menengoknya. SEo Jung tampak pucat dan kelelahan. Min Joon membawakannya es krim dan menyuapinya. Min Joon percaya es krim bisa membuat badan lebih segar (duh jd pengen makan es krim disuapin maksudnya hehe).
Di restorannya Woo Jin melihat artikel Julia K dia melihat foto ibunya kala masih muda. Dia terharu dan tidak percaya ibunya ternyata sangat cantik. Julia menemui seseorang bapak tua, dia memperlihatnya foto ibu Woo Jin saat muda.
Park Ki Ja merenung dia akhirnya menulis surat pengunduran dirinya. Dan menyerahkannya pada pemred pagi harinya.
tapi bukan Ki Ja kalau menyerah begitu saja dia menemui teman dekat bisnis pemred dan mengancamnya soal penyalahgunaan iklan.
Presdir menemui Pemred dia memperlihat hasil audit iklan dan uang yang disetor. Pemred terbukti berkolusi dengan salah satu rekan bisnisnya.
Woo Jin kesal dengan sikap Ki Ja yang dingin ingin menang sendiri, tidak merasa salah dan tak meminta maaf padanya. Mereka juga berencana pergi ke karaoke, woo jin terpaksa ikut juga. Di sisi jalan dia mengomel dan menyalahkan Ki Ja. Ki Ja yang dingin kesal juga, dia menyuruh woo Jin diam tapi Woo Jin tak berhenti ngomel. Park Ki Ja mencium Woo Jin. Woo Jin tak suka dan berusaha melepaskan diri. Ki Ja beralasan dia menciumnya karena mulut Woo Jin tak mau berhenti bicara.
Tanpa tau apa yang terjadi Seo Jung dan Min Joon kebetulan menyaksikan Woo Jin dan Park Ki Ja berciumian. Min Joon patah hati, SEo Jung walau mabuk dia juga melihatnya dan patah hati. Di tempat Karaoe Seo Jung mabuk dan menyanyi keras-keras. Min Joon kasihan melihat Seo Jung yang mabuk dan terlihat merana. Pemred Kim Ji Won yang sadar dia diserang Ki Ja datang ke tempat karaoke. Dia marah pada Ki Ja dan menyiram Ki Ja dengan es batu. Ki Ja berusaha tetap dingin dan cuek.
"Apa kamu menyukai Woo Jin", tanya Min Joon
"Ya...eh tidak", walau mabuk dia berusaha menyembunyikan perasaannya.
SEo Jung mabuk, Min Joon membawa Seo Jung ke rumahnya. Pagi harinya ketika sadar Dia stress takut diapa-apain ama Min Joon. Min Joon cuma tertawa (ga sejelek itu lah dia). Seo Jung tiba-tiba ingin ke kamar mandi, doa menjerit karena melihat Min Joon yang tengah mandi.
Mereka lalu pergi ke kantor bersama. Di mobil Seo Jung malu dan tidak mau bicara. Min Joon mencairkan suasana
"Aku khan yang jadi korban, yang dilihat olehmu. Mengapa kau yang tidak mau bicara". kata Min Joon.
Tiba-tiba Seo Jung merasa ingat sesuatu "Apa benar tadi malam aku meliat Woo Jin dan boss..."
"Sudah lupakan semua itu", kata Min joon sambil menjentikkan jarinya.
Di lift mereka bertemu Park Ki Ja. Ki Ja menyindir baju Seo Jung yang terlihat belum ganti baju. Dia mencurigai Min Joon dan Seo Jung. Seo Jung berusaha menyangkal. Namun Min Joon ingin pamer dan berkata dia semalam memang bersama Seo Jung.
Di kantor Presdir kembali memanggil pemred Kim Ji Won dan Park Ki Ja. Dia kembali mempekerjakan Ki Ja dan meminta Kim Ji Won tugas luar ke Paris untuk beberapa lama. Presdir mempercayakan edisi khusus disiapkan sepenuhnya oleh Park Ki Ja. Ki Ja sekarang merasa menang.
Seo Jung menemui Woo Jin, dia ingin mengembalikan sepatu pemberian Woo Jin. Dia merasa dipermainkan oleh Woo Jin. Selama ini SEo Jung mengira woo Jin memberikan dua pasang sepatu , satu untuknya dan satu untuk Ki Ja.Tapi woo jin tak mau menerima barang itu kembali, dia menyuruh Seo Jung membuangnya saja jika tidak mau. Seo Jung pergi , begitu melihat tempat sampah dia membuangnya. tapi dia berubah pikiran san sayang sepatu itu, dia mengambilnya kembali.
Makan malam presdir mentraktir Park Ki Ja. Dia menjanjikan Ki Ja jika majalah edisi khusus sukses dia akan dipromosikan menjadi Pemimpin Redaksi.
Malam hari seorang bapak tua yang sangat mengenal Woo Jin mengunjungi restorannya. Dia berbicara pada Woo Jin dan meminta Woo Jin mengambil alih Style.
< episode 3 episode 5 >
March 1, 2010
Style episode 3
Min Joon dan Woo Jin sama-sama spontan terjun ke air untuk menolong Park Ki Ja. Tapi Min Joon keduluan sama Woo Jin dan dia kesal. Malang bagi Seo Jung dia timbul tenggelam di air sendiri mereka lupa menolongnya..
Rombongan pulang kembali ke Seoul ke kantor, dan kepergian kali ini bagai mimpi buruk bagi Seo Jung.
"Aku ini juga khan perempuan, dan mereka tidak menolongku", Seo Jung kesal pada nasibnya sendiri.
Dia menjemur sepatu dan bajunya yang basah (karena kecebur dikolam)di lantai atas gedung. eh lagi-lagi dia sial, sepatunya jatuh ke lantai dasar. Belum lagi Park Ki ja dan Min Joon yang menanyainya tentang setelan yang hilang. Seo Jung rasanya telah berkali-kali menkan dengar bossnya mengatakan "Kau tidak becus dalam segala hal yang kau kerjakan".
Seorang editor mengembalikan baju pada Min Joon, dia berkata dia hanya meminjam baju itu karena ingin tampak keren di mata para wanita. Min Joon mencek baju itu, ternyata itu baju yang selama ini mereka ributkan hilang. Editor itu meminta maaf dan memohon-mohon pada Seo Jung agar tidak mengatakan hal ini pada siapapun apalagi pada bosnya. "Kau kan sudah sering dimarahi dan dihukum boss, jadi sudah terbiasa", katanya memohon dengan cemas. Seo Jung lagi-lagi kesal pada dirinya sendiri.
Manager dan Park Ki Ja menemui Presdir. Presdir tiba-tiba berubah pikiran dia tidak mau Chef Woo Jin diliput di makalahnya. Managernya yang penjilat segera mengiyakan tapi pak Ki Ja kesal pada managernya yang tidak punya prinsip. "Ini lah makanya majalah kita tidak pernah menjadi majalah no 1"
Giliran SEo Jung yang bingung manager memintanya menghentikan menulis liputan Woo Jin sedangkan Park Ki Ja menyuruhnya jalan terus
"Kau harus mempertahankan apa yang tengah kau kerjakan", desak Ki Ja.
Park Ki Ja berdandan menawan menemui Woo Jin, dia mengatakan terimakasih karena Woo Jin bagaimanapun telah menolongnya di kolam renang
"Itu hanya reflek spontan, tak perlu dilebih-lebihkan", Woo Jin merendah (atau jaim).
Dia mengajak Ki Ja jalan karena dia bermaksud membelikan hadiah untuk wanita dan minta Ki Ja memilihkan untuknya. Mereka melihat-lihat sepatu, Woo Jin menunjuk sepatu casual warna putih yang sederhana tapi manis. Tapi Ki Ja memberinya saran sepatu hijau yang lebih trendy.
Di kantor Min Joon kasihan pada SEo Jung yang sebenarnya tidak bersalah, dia tahu sepatu SEo Jung masih basah, dia mengajaknya pergi dan mencarikan sepatu. Mereka berempat bertemu dengan saling salah tingkah. Min Joon tidak sengaja memilihkan sepatu warna putih seperti yang sempat dilihat Woo Jin tadi dan membelikannya untuk Seo Jung. Ki Ja kesal melihatnya.
Hubungan Ki Ja dan Min Joon yang secara fisik begitu dekat tiba-tiba jadi dingin. Min Joon tidak senang karena dia rasa di hati seniornya telah ada laki-laki lain.
Seo Jung senang dengan sepatu yang telah dibelikan untuknya. Dia seharusnya benar-benar bersyukur tetapi hatinya tidak merasa demikian. Dia masih tidak enak melihat Woo Jin bersama atasannya tadi.
Seo Jung jadi merasa kesal dengan Woo Jin dia mencurahkan kekesalannya pada artikel Woo Jin yang sedang disusunnya. Tapi manager mengiranya lain, dia memarahi SEo Jung yang masih nekad menulis tentang Woo Jin
Mantan model dan Designer senior Julia K kembali ke korea setelah lama tinggal di luar negeri. Dia curiga ada hubungan yang tidak baik antara manager/pemred nya. Dia ingin menggunakan berita Julia K untuk menekan managernya. Dia juga curiga ada hubungan apa antara presdir dan Woo Jin. Secara Kebetulan Woo Jin kenal baik dengan Julia K karena teman ibunya.
Park Ki ja kembali mencela SEo Jung, dia beranggapan bahwa tulisan artikelnya tidak bermutu. Kim Joon datang menengahi. Dia heran pada seniornya Ki Ja karena menurutnya tulisan Seo Jung tidak ada salahnya. Giliran Ki Ja yang kesal dia menuduh Kim Joon dan Seo Jung berpacaran.
Seo Woo Jin menemui Seo Jung. Dia ternyata membelikan sepatu hijau itu untuk Seo Jung. Seo Jung terpana dia sempat sedih karena mengira Woo Jin membelikan sepatu itu untuk Park Ki Ja. Woo Jin mengatakan bahwa itu hadiah untuk Seo Jung karena mendapat promosi sebagai editor.
Park Ki ja menyiapkan dua artikel utama yang masing-masing bisa mengerjai manager atau presdir. Dia mengajak presdir bertemu dengan Julia K di restoran Woo Jin. Presdir kaget bertemu Woo Jin tapi mereka masih pandai menutupi hal ini.
Seo Jung senang karena artikel yang ditulisnya tentang Seo Jung akan diterbitkan, itu debut pertamanya sebagai editor.
Park Ki Ja pergi ke toko sepatu dia sudah jatuh cinta pada sepatu hijau yang dia pilihkan untuk Woo Jin. Dia juga membeli untuk dirinya sendiri. Dia juga masih penasaran tentang hubungan presdir dan Woo Jin, tapi dia belum berhasil menguaknya. Detik-detik terakhir menjelang pencetakan majalah, Park Ki Ja memutuskan untuk mengganti artikel Woo Jin dengan Julia K. Untuk kali ini dia memutuskan untuk mengerjai manager/pemred nya dulu.
Seo Jung di tempat percetakan kaget dan kecewa ternyata artikelnya tidak jadi terbit dan digantikan oleh artikel Julia K. Park Ki Ja juga datang ke percetakan untuk mengecek majalah. Seo Jung begitu kesal melihat atasannya saat itu, dia tahu pasti perubahan ini atas perintah atasannya.
Pada saat yang sama dia Ki Ja melihat bahwa Seo Jung dia dan seo Jung memakai sepatu hijau yang sama. Dia tidak rela kalau ternyata sepatu itu untuk Seo Jung.
< Episode 2 Episode 4 >
Rombongan pulang kembali ke Seoul ke kantor, dan kepergian kali ini bagai mimpi buruk bagi Seo Jung.
"Aku ini juga khan perempuan, dan mereka tidak menolongku", Seo Jung kesal pada nasibnya sendiri.
Dia menjemur sepatu dan bajunya yang basah (karena kecebur dikolam)di lantai atas gedung. eh lagi-lagi dia sial, sepatunya jatuh ke lantai dasar. Belum lagi Park Ki ja dan Min Joon yang menanyainya tentang setelan yang hilang. Seo Jung rasanya telah berkali-kali menkan dengar bossnya mengatakan "Kau tidak becus dalam segala hal yang kau kerjakan".
Seorang editor mengembalikan baju pada Min Joon, dia berkata dia hanya meminjam baju itu karena ingin tampak keren di mata para wanita. Min Joon mencek baju itu, ternyata itu baju yang selama ini mereka ributkan hilang. Editor itu meminta maaf dan memohon-mohon pada Seo Jung agar tidak mengatakan hal ini pada siapapun apalagi pada bosnya. "Kau kan sudah sering dimarahi dan dihukum boss, jadi sudah terbiasa", katanya memohon dengan cemas. Seo Jung lagi-lagi kesal pada dirinya sendiri.
Manager dan Park Ki Ja menemui Presdir. Presdir tiba-tiba berubah pikiran dia tidak mau Chef Woo Jin diliput di makalahnya. Managernya yang penjilat segera mengiyakan tapi pak Ki Ja kesal pada managernya yang tidak punya prinsip. "Ini lah makanya majalah kita tidak pernah menjadi majalah no 1"
Giliran SEo Jung yang bingung manager memintanya menghentikan menulis liputan Woo Jin sedangkan Park Ki Ja menyuruhnya jalan terus
"Kau harus mempertahankan apa yang tengah kau kerjakan", desak Ki Ja.
Park Ki Ja berdandan menawan menemui Woo Jin, dia mengatakan terimakasih karena Woo Jin bagaimanapun telah menolongnya di kolam renang
"Itu hanya reflek spontan, tak perlu dilebih-lebihkan", Woo Jin merendah (atau jaim).
Dia mengajak Ki Ja jalan karena dia bermaksud membelikan hadiah untuk wanita dan minta Ki Ja memilihkan untuknya. Mereka melihat-lihat sepatu, Woo Jin menunjuk sepatu casual warna putih yang sederhana tapi manis. Tapi Ki Ja memberinya saran sepatu hijau yang lebih trendy.
Di kantor Min Joon kasihan pada SEo Jung yang sebenarnya tidak bersalah, dia tahu sepatu SEo Jung masih basah, dia mengajaknya pergi dan mencarikan sepatu. Mereka berempat bertemu dengan saling salah tingkah. Min Joon tidak sengaja memilihkan sepatu warna putih seperti yang sempat dilihat Woo Jin tadi dan membelikannya untuk Seo Jung. Ki Ja kesal melihatnya.
Hubungan Ki Ja dan Min Joon yang secara fisik begitu dekat tiba-tiba jadi dingin. Min Joon tidak senang karena dia rasa di hati seniornya telah ada laki-laki lain.
Seo Jung senang dengan sepatu yang telah dibelikan untuknya. Dia seharusnya benar-benar bersyukur tetapi hatinya tidak merasa demikian. Dia masih tidak enak melihat Woo Jin bersama atasannya tadi.
Seo Jung jadi merasa kesal dengan Woo Jin dia mencurahkan kekesalannya pada artikel Woo Jin yang sedang disusunnya. Tapi manager mengiranya lain, dia memarahi SEo Jung yang masih nekad menulis tentang Woo Jin
Mantan model dan Designer senior Julia K kembali ke korea setelah lama tinggal di luar negeri. Dia curiga ada hubungan yang tidak baik antara manager/pemred nya. Dia ingin menggunakan berita Julia K untuk menekan managernya. Dia juga curiga ada hubungan apa antara presdir dan Woo Jin. Secara Kebetulan Woo Jin kenal baik dengan Julia K karena teman ibunya.
Park Ki ja kembali mencela SEo Jung, dia beranggapan bahwa tulisan artikelnya tidak bermutu. Kim Joon datang menengahi. Dia heran pada seniornya Ki Ja karena menurutnya tulisan Seo Jung tidak ada salahnya. Giliran Ki Ja yang kesal dia menuduh Kim Joon dan Seo Jung berpacaran.
Seo Woo Jin menemui Seo Jung. Dia ternyata membelikan sepatu hijau itu untuk Seo Jung. Seo Jung terpana dia sempat sedih karena mengira Woo Jin membelikan sepatu itu untuk Park Ki Ja. Woo Jin mengatakan bahwa itu hadiah untuk Seo Jung karena mendapat promosi sebagai editor.
Park Ki ja menyiapkan dua artikel utama yang masing-masing bisa mengerjai manager atau presdir. Dia mengajak presdir bertemu dengan Julia K di restoran Woo Jin. Presdir kaget bertemu Woo Jin tapi mereka masih pandai menutupi hal ini.
Seo Jung senang karena artikel yang ditulisnya tentang Seo Jung akan diterbitkan, itu debut pertamanya sebagai editor.
Park Ki Ja pergi ke toko sepatu dia sudah jatuh cinta pada sepatu hijau yang dia pilihkan untuk Woo Jin. Dia juga membeli untuk dirinya sendiri. Dia juga masih penasaran tentang hubungan presdir dan Woo Jin, tapi dia belum berhasil menguaknya. Detik-detik terakhir menjelang pencetakan majalah, Park Ki Ja memutuskan untuk mengganti artikel Woo Jin dengan Julia K. Untuk kali ini dia memutuskan untuk mengerjai manager/pemred nya dulu.
Seo Jung di tempat percetakan kaget dan kecewa ternyata artikelnya tidak jadi terbit dan digantikan oleh artikel Julia K. Park Ki Ja juga datang ke percetakan untuk mengecek majalah. Seo Jung begitu kesal melihat atasannya saat itu, dia tahu pasti perubahan ini atas perintah atasannya.
Pada saat yang sama dia Ki Ja melihat bahwa Seo Jung dia dan seo Jung memakai sepatu hijau yang sama. Dia tidak rela kalau ternyata sepatu itu untuk Seo Jung.
< Episode 2 Episode 4 >
Subscribe to:
Posts (Atom)