Free Translation

December 30, 2009

Queen Seon Deok OST MV 2

Araro by IU
http://www.youtube.com/watch?v=4wYWvNEh1Pc
credit to pockyhearts



Crystal Glasses
http://www.youtube.com/watch?v=l6-3jNAGTqA
credit to commandertraveler



Hanul Nari


Mishil Theme
http://www.youtube.com/watch?v=D2Sv47yKsS0
credit to dragoncraps



OST Queen Seon Deok MV 1

December 29, 2009

OST IRIS


'IRIS" OST KOREA DRAMA

BRIAN KIM | MySpace Video

Apa yang disukai dari Kim Nam Gil?

There is a footless bird in the world.
The bird fly’s about...get tired then always have a rest in the wind.
He settles down on the ground just once in his whole life. 
(Kim Nam Gil-http://cyworld.com/trueeyesonme



Para fans Kim Nam Gil mungkin dah hafal sajak di atas.
Dari nama, Kim Nam Gil (KNG) terdengar unik dan sebenernya agak sulit untuk diucapkan. Sebelumnya KNG Pernah menggunakan nama panggung Lee Han tetapi kembali ke nama aslinya tahun 2008.
Lahir 13 Maret 1981, saat ini 28 tahun, ini usia yang matang tapi tidak tua khan. Tingginya dong…yang 184 cm dan berbadan tegap itu, Wow pasti disukai. Dia bisa nyanyi bisa juga main gitar…dan begitulah sepertinya ia sering muncul dalam jumpa fans dan menyanyi. Suaranya dalam khas dan menggetarkan.

Di Indonesia ,namanya meroket setelah memerankan tokoh Bidam di drama seri The Great Queen Seon Deok (QSD). Uniknya, di pemunculan perdananya yang bikin heboh, dia digemari bukan karena tampil wah, trendi, rapi, sopan dan manis. Bidam justru ditampilkan dengan wajah kusam dan gelap, baju kumal compang-camping, cara jalan ga beraturan, makan seenaknya dan bersikap tanpa etika. Namun ternyata orang-orang suka dengan kekuatan karakternya dan menganggapnya cool dan keren juga charming.

Rupanya sejak tahun 2005 dia sudah masuk ke dunia drama dan berhasil mendapatkan peran-peran kecil. Tahun 2006 dia mulai dikenal di dunia film karena ikut membintangi film yang menghebohkan No Regret. Film ini mengisahkan tentang pasangan gay (ih moga-moga KNG ga ketularan sedikiiiittt pun). Tahun 2007, Dia mendapatkan peran sebagai supporting actor dalam drama When Spring Comes. Sebelum drama seri QSD, peran KNG di drama tidak terlalu menonjol.

Diketahui juga KNG cukup aktif di film. Tahun 2008 dia sebagai supporting actor dalam film Modern Boy. Dalam film ini dia memerankan seorang ahli hukum warga negara Jepang. dia mendapatkan nominasi dalam sebagai the best new actor dan the best supporting actor di Daejong Awards ke 46 tapi tak berhasil menang. Setelah itu dalam tahun yang sama dia mendapatkan tawaran main di film tradisional sebagai supporting actor dalam film Portrait of Beauty. Para penggemar Bidam sekarang mungkin akan menyukai penampilan KNG di film itu.
(ups...ini film dewasa)

Selain itu dia juga main film yang dibintangi Uhm Tae Wong (Kim Yu Shin di serial QSD) yang berjudul Handphone di tahun 2009.

Kini berkat kepolerannya lewat serial QSD tawaran iklan dan film kepadanya bermunculan.

Queen Seon Deok episode 62 (Final episode)

Episode Akhir
Deokman di atas podium menyemangati rakyatnya. Wajahnya mulai berkeringat. Alcheon melihatnya. Deokman turun dari podium Alcheon melihatnya kepayahan. Dia memegang lengan ratu. Dia meminta maaf dan minta ijin menuntun Yang Mulia. Ratu  keberatantidak mau orang-orang melihatnya dan berusaha terus berjalan sendiri.

Tapi belum sampai ke ruangan Ratu terjatuh alcheon datang.
Rakyat memperhatikan bintang yang bergetar tidak lazim, Tak lama kemudian bintang itu jatuh.
Ratu merasakan serangan jantung rombongan ratu datang menghampiri. Alcheon memanggil tandu.

Di Benteng Myunghwal orang-orang melihat bintang jatuh ke arah benteng Wol. Bidam berpidato
"Itulah tanda dari langit akan datangnya Negeri Baru". Semua bersorak untuk Bidam.
Bidam berkata dalam hati “Aku akan menjadi negeri suci dan saya akan memilikimu Deokman”

Ratu diperiksa oleh tabib kerajaan, Alcheon mendampinginya. Tabib prihatin kondisi Yang Mulia yang makin parah. Yushin menengoknya
Deokman bercerita, dulu waktu dia baru datang dari gurun dia bermimpi. Dia mencari cari Munno, kemudia ada seorang wanita yang tiba2 memeluknya. Wanita itu bersimbah air mata. “Setelah sekian tahun aku tadi malam memimpikan hal itu lagi”
Yushin bertanya siapa wanita itu. Ratu menjawab saya tidak tahu.
Ratu memberi ijin Kim Yu Shin untuk menjalankan strateginya. Ratu memerintahkan laksanakan rencana itu malam ini.

Yushin terkejut mendengar tentang penyakit Yang Mulia dari Alcheon. Yushin kembali menengok Deokman yang tengah tertidur gelisah. Dia prihatin. Yushin ingat kata-kata Deokman bahwa dia ingin menghabiskan hidupnya dengan Bidam. Yushin merasa kasian terhadap Deokman (karena sepertinya tidak mungkin ya..pasukannya berencana menghabisi bidam ya…?)

Yushin mengadakan rapat dengan timnya (semua mantan hwarang hampir semua bawahan yushin). Yushin berniat menyerang benteng lawan dari 4 penjuru sekaligus.
“Apa di satu sisi penyerangan tipuan?”, kata seorang komandan pasukan
“Bukan ini penyerangan sebenarnya dan serentak dari 4 penjuru”, tegas Yushin. Mereka mencari cara untuk membuat sinyal militer yang bisa mecakup 4 penjuru tanpa disadari oleh musuh.
"Kita akan membuat bintang  yang turun  kembali naik ke langit!"
Yushin memutuskan akan menggunakan tipuan menaikkan lagi bintang yang kemarin jatuh di langit.

Bidam menyadari bahwa Yushin bermaksud menyerangnya secepat mungkin untuk mencegah semakin banyaknya para bangsawan yang bergabung dengan Bidam. Bidam berkata kita berusaha bertahan hingga besok atau selama 1-2 hari lagi sampai bala bantuan tambahannya datang.

Yushin bertindak malam itu juga. Dia mulai dengan sarangan pancingan dari luar benteng di barat dan timur. Tapi Bidam tidak terpancing, dia menyuruh pasukannya terus bertahan di dalam. Tiba-tiba ada kehebohan di pasukan Bidam, mereka terpana menyaksikan hal aneh di langit. Ada bintang yang seolah-olah menaiki posisinya lagi di langit. Hanya Misaeng yang tau bahwa itu trik dengan layang-layang. Bidam menyadari bahwa itu sinyal militer. Tapi sepertinya Bidam tidak punya waktu banyak.

Saat para penjaga semuanya terpana melihat tipuan bintang naik, Pasukan Alcheon dengan mudah menaklukan gerbang selatan. Begitu juga dengan gerbang timur. Santak berhasil masuk ke benteng Myunghwal dengan menyamar menjadi tentara Alcheon.

Bidam memerintahkan pasukannya menahan serangan di selatan dan timur dan coba memancing para pasukan di pintu barat. Bidam berkata bahwa dia akan memimpin sendiri pertempuran ini.
Pada saat genting Santak muncul. Bidam lega.. Santak membisikkan laporannya kepada Bidam. Bidam goyah, dia telah salah sangka terhadap Deokman. (berita gembira tapi mungkin saatnya ga tepat)
Para bangsawan dan Yeom Jong jadi panik dan berencana melarikan diri lewat gerbang utara dan menuju ke arah pasukan bantuan. Bidam memergoki Yeom Jong. Dia berkata tentang Heuksan.
“Oh jadi kamu sudah tau”, kata Yeomjong. Yeomjong berkata dia tahu Bidam bisa memaklumi semua itu. Bukan salahnya jika Munno terbunuh dan bukan salahnya pula jika Bidam memberontak. “Bukankah kamu juga menginginkan menjadi raja?”
“Itu bukan Aku..”, bantah Bidam gemetar.
“Oh jadi semua itu karena cinta?”. Apa jika kau mendapatkan cintamu, kamu juga tidak akan memberontak? Bukankah kamu selalu merasa tidak tenang bahwa suatu saat Yang Mulia akan meninggalkanmu.
(Yeom Jong kali ini benar, Bidam karena dari kecil diabaikan dan tidak mendapatkan cinta, dia selalu merasa insecure)
Bidam terduduk lemas. YeomJong mencoba pergi. Tapi Bidam tiba-tiba menusuknya dengan pedang.

Misaeng datang tergopoh gopoh mengajak Bidam pergi. Dia melihat YeomJong tak bernyawa. Dia mulai sadar yang terjadi. Dia kecewa terhadap Bidam. Dia merasa salah sangka. Misaeng tadinya berpikir Bidam akan seperti kakaknya Mishil. Dan Misaeng merasa kakaknya pun telah salah menilai Bidam.
“Bidam, kamulah telah menghancurkan dirimu sendiri”
“Mengapa tak ada yang mengatakan hal ini kepadaku?”
“Saya, Seolwon dan semua orang telah mengatakannya, tetapi kamu tidak menyadarinya”
Misaeng menangis. Dia merasakan kehancuran keluarganya telah dekat.

Yushin dan pasukannya berhasil masuk dan menguasai benteng dengan cepat (ga ada perlawanan dari Bidam sih). Mereka menangkap Lord Jujin, Hojae dan bangsawan lainnya. Tetapi mereka kehilangan Misaeng, Hajong, Bojong dan Bidam.

Ratu datang ke kamp militer melihat keadaan. Yushin bertanya
“Jika Bidam tertangkap apa yang akan Yang Mulia lakukan”, Yushin mencoba empati.
“Apa kamu tidak percaya padaku? Aku telah memberikan perintah kerajaan untuk membunuh Bidam”, Deokman berusaha tegas dan tegar.

Dalam keadaan terjepit. Misaeng dan Hajong melarikan diri ke makam Mishil. Hajong berkata apa Misaeng tidak menyesali ini semua. Misaeng merasa harusnya ia tidak menyesal karena dia memiliki 100 anak dan pernah mengencani banyak wanita. Dia juga selalu menggunakan akal dan bakatnya selama ini. Hajong berkata dia memang iri pada Misaeng. Akhirnya pasukan Yushin datang menangkap mereka.

Bidam sedang berjalan diiringi Santak. (style rambut Bidam jadi beda, keren juga)
“Ini jalan ke arah kamp ratu. Sang Daedeung bisa tertangkap.” Santak mengoreksi.
Santak mengajak Bidam melarikan diri. Bidam menolak dan menyuruh Santak pergi melarikan diri sejauh mungkin.
“Jangan gunakan pedang lagi. Pergilah. Hiduplah dengan cangkul dan sabit”
Bidam memberikan benda miliknya kepada Santak.
(perpisahan mereka bikin trenyuh. Cuma santak yang setia dan bisa dipercaya sama Bidam saat ini. Santak emang selalu setia sama majikannya. Dulu dia bawahan sekbum dia juga setia sama Sekpum sampai mati).
“Tapi apa sebenernya maksud Sang Daedeung pergi kesana”, Santak cemas mencoba membujuk.
“Ada sesuatu yang akan kukatakan pada Yang Mulia, yang dulu belum kukatakan”
Bidam pergi. Santak melakukan penghormatan terakhir.
Santak berbalik. Tiba-tiba sebuah panah mengenainya. Santak berteriak “SangDaedeung lari…!”. Santak terkena beberapa panah dan meninggal.

Bidam kaget dan berbalik. Komandan pasukan meminta Bidam menyerahkan diri. Bidam siap bertarung.
“Ayo maju. Siapa yang bisa menjatuhkanku akan tercatat dalam sejarah!”
(Bidam beraksi lagi...keren)
Bidam terus bertarung sampai ke benteng lawan. Alcheon lapor pada Ratu. Bahwa benar Bidam muncul dari belantara di dekat gerbang.
“Apa kamu sudah menangkapnya?”, tanya Yushin.
“Dia tidak mau ditangkap dia malah bertarung sengit”
Yushin dan ratu keluar.
Bidam dengan berani melawan banyak pasukan seorang diri.
Dia mengikatkan pedang pada tangannya dan melawan pasukan-pasukan(udah siap bertempur terus sampai mati kayaknya).
Yushin menghampiri Bidam.
“Bidam, semua sudah berakhir. Ikutlah denganku”, Yushin membujuk halus meminta Bidam menyerah. “Berhentilah membunuh lebih banyak orang lagi”

Bidam seperti melihat Deokman di kejauhan. “Apakah itu Yang Mulia?. Yang Muliakah yang jauh disana?", Bidam mengabaikan kata-kata Yushin dan malah bertanya
“Bidam, sudahlah... cukup.”, sahut Yushin.
Bidam memikirkan sesuatu dan tiba2 berkata.
“Yushin, selama ini kita belum pernah bertarung secara fair”, kata Bidam (terakhir kali yang di Bijae pertarungan pura-pura)
Bidam menyiapkan pedangnya. Yushin pun mencabut pedangnya siap melayani Bidam. Tetapi Bidam ternyata kabur, membunuh pasukan dan menuju ke arah Deokman. Yushin tak menyangka Bidam pergi menjauh.
“Hentikan Dia, hentikan Dia!”, Yushin panik.
Bidam berkata dalam hati “Yushin kamu sudah memenangkan segalanya. Jadi tidak perlu ada pertarungan lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Deokman”
Bidam berhasil melewati banyak pasukan dengan sedikit luka saja.
Bidam melihat Deokman dari jauh dan menghitung jarak.
“Sampai ke Deokman…70 langkah lagi...”
Deokman berkaca-kaca menyaksikan Bidam seorang diri melawan pasukan-pasukannya.
Tiba-tiba pasukan pemanah datang. Mereka berniat melindungi Yang Mulia (duh aku mulai lemes deh…pasukan pemanah Gaya khan tambah hebat andalan Shilla)
Pasukan panah menghujani Bidam dengan panah. Bidam berusaha menghindar. Tapi 3 anak panah berhasil menembus tubuh Bidam.
Deokman menutup mata tak tega. (aku juga...)
Bidam terluka parah, dari mulutnya mengeluarkan darah. Bidam berusaha bangkit.
Dia melihat ke arah Deokman. “Sampai ke Deokman… 30 langkah lagi...”

Kali ini komandan-komandan pasukan serentak melawan Bidam. Dalam keadaan terluka parah Bidam berusaha tetap melawan. Deokman menangis.
Walau terkena pedang dan semakin bersimbah darah, Bidam terus maju.
Deokman berlinang air mata.Tapi dia tidak kuasa berbuat apa-apa. Bidam kembali menghitung jarak.
“Sampai ke Deokman…10 langkah”
Akhirnya Alcheon yang mencoba menghadang Bidam. Pedangnya berhasil telak mengenai Bidam . Yushin juga datang Dia melukai Bidam dengan pedangnya. Bidam masih berdiri sempoyongan. Dia mendekati Yushin dan ingin terus maju. Yushin menggelengkan kepalanya. ( Yushin , Bidam Cuma mau ngomong sesuatu sama Deokman bolehin aja! Dia udah ga berbahaya!)
Tapi Bidam berusaha melangkah lagi. (5 langkah lagi...).
Yushin akhirnya menghunuskan pedangnya ke perut Bidam untuk menghentikannya. (Aaahhh).
Alcheon memandangnya dengan iba.
Air mata Deokman terus mengalir.
Bidam mulai roboh ke tubuh Yushin. Tangannya menggapai–gapai ke arah Deokman. Dia berkata sesuatu tapi Deokman tak bisa mendengarnya.
Bidam jatuh tergeletak ke tanah dan tangannya kemudian tak bergerak lagi.

Ratu maju mendekat. Yushin dan Alcheon berlutut memberi hormat, tanda Ratu sudah berhasil menang. Dengan air mata yang masih menempel. Ratu berusaha menyemangati dan memberikan penghargaan kepada pasukan dan pengikutnya.
Pengikutnya bersorak memuji Ratu. Tapi sebaliknya Deokman merasa sedih dan menderita. Dia melihat Bidam yang tergeletak di tanah tak bergerak. Tubuh Deokman tiba-tiba jatuh dan terbaring di tanah. Sambil terbaring Deokman memandang wajah Bidam dihadapannya (sama-sama terbaring berhadapan tapi Bidam udah ga bernyawa lagi huaaa..). Deokman tak sadarkan diri.

Deokman di peraduannya ditunggui oleh bibinya (Ibunda Yushin). Deokman akhirnya sadar setelah pingsan 3 hari 3 malam. Alcheon menengoknya, Ratu berkata bahwa selama ini Alcheon telah bekerja keras dan masih terus harus bekerja. Ratu meminta Alcheon menduduki jabatan Perdana Mentri/SangDaedeung yang kosong (denger kata jabatan PM kosong ko jadi sedih ya...Sangdaedeung Bidamnya...).
”Ini perintah, Kamu harus menerimanya”
Yushin datang menengok. Ratu berbicara dengan Yushin di kamarnya
Ratu bertanya, “Tuan Yushin, Saya melihat dengan jelas , Bidam mengatakan sesuatu dekat telingamu sebelum dia meninggal. Apa yang dia katakan?”
Yushin berusaha mengingat kejadian itu. “ Bidam condong ke tubuhnya, mencoba berbicara sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah deokman. Samar-samar terdengar
“Deokman…deokmana…” (Bidam bertaruh nyawa cuma mau ngomong itu T-T)
“Saya tak berani yang mulia. Itu sesuatu yang tidak sopan.”, kata Yushin ragu
Kalimat apa yang dia katakan?
“Itu kata yang tidak patut terucap”
Tak apa-apa . Ini Perintah katakan saja.
“Deokmana…”, ucap Yushin
Air mata Deokman mulai mengalir.
Dia teringat saat berbincang bersama Bidam. (di episode 57)
“Sekarang tidak ada lagi yang bisa memanggil namaku”.
“Saya akan memanggil namamu Yang Mulia”,kata Bidam
“Kamu akan dianggap pengkhianat. Walau kamu memanggil namaku dengan penuh cinta, dunia tetap menganggapmu pengkhianat”
Deokman trenyuh dan menangis, tapi dia berusaha menghapus airmatanya di hadapan Yushin.
(paling tidak walau Bidam harus mati semua kesalahpahaman Deokman sama Bidam udah usai).

Ratu berkata dia ingin pergi keluar. Di mana dia bisa melihat langit dan bumi semuanya.
Ratu keluar. Dia duduk di tepi tebing memandang tempat yang luas. Yushin menemani dekat ratu.
“Sunyi sekali di sini” (sepertinya yang sunyi itu hatinya Deokman)
Ratu berkata bahwa semenjak dulu banyak orang yang telah meninggalkannya. Beberapa ada yang mendukung dia ada juga yang melawannya. Dari beberapa itu dia..dia mencintai saya…
“Dari banyaknya orang yang datang dan pergi setelahnya. Hanya kamu yang tetap tersisa bersamaku…
Banyak jalan sulit yang telah kita lewati. Kamu membantuku. Kita masih punya tugas besar negeri ini. Jika tidak kita yang mencapainya entah suatu saat apa tanah ini masih menjadi milik Silla? Kamu harus mencapainya!”
“Tuan Yushin, tentang mimpi saya itu. Saya sudah tau siapa wanita itu”
Siapa Yang Mulia?
Deokman tidak menjawab.
“Kamu ingat kejadian yang telah lampau bahwa kita bermaksud melarikan diri berdua? Apakah kamu sekarang mau melakukannya?”

Saya malu Yang Mulia.
Deokman menangis (mungkin deokman membenarkan kakaknya. Dia telah menukar tahta dengan kebahagiannya).
Deokman terkulai, tangannya yang memakai cincin tak bergerak lagi,


Ending
Deokman kecil sedang di Gyerim. Seorang wanita dewasa berbaju putih mendatanginya tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Deokman kecil heran dan berusaha melepaskan diri. Wanita itu pergi. Deokman kecil juga pergi berlawanan arah. Wanita itu berbalik ke arah deokman kecil. Wanita itu Deokman. Deokman berkata kepada Deokman kecil dalam hati
“Deokmana…mulai saat ini hidupmu tidak mudah. Kamu akan kesepian. Kamu akan merasa lebih kering dari gurun dan akan sangat sangat merasa sunyi. Kamu terlihat memiliki segalanya padahal kamu tidak memiliki apa-apa. Tapi laluilah. Kamu harus kuat memikul semuanya, tahanlah semuanya!”


QSD ep. 61     QSD ep. 60     QSD ep. 59     QSD ep. 58

December 28, 2009

Queen Seon Deok episode 61

(Akhirnya setelah menenangkan diri beberapa hari, baru berani nulis QSD lagi. ini edisi lengkappp)

Bidam terkejut sekaligus tak mau mempercayai pernyataan mata-mata itu. Dan tak sanggup menerima bahwa itu mata-mata ratu.
Bidam teringat kata-kata chunchu “Apa benar yang mulia ingin membagi cintanya denganmu?”. Bidam yang sedang galau jadi gamang.
Dia teringat Yang Mulia menyuruhnya pergi. (Bidam nunggu deokman lebih dari 15 tahun dan ketika mau nikah eh disuruh pergi., eh sekarang malah mau dibunuh) Tapi Yang Mulia pernah berkata ingin Bidam percaya padanya. Bidam tak sanggup mencerna ini semua. Dia berteriak sekencang-kencangnya
“Aaaaaaaaa…!”


Yeom Jong berniat menghilangkan kepercayaan Bidam kepada Yang Mulia agar bisa menarik Bidam ke sisi mereka kembali.
Yeom Jong memanas-manasi Bidam.
“Yang Mu…Yang Mulia..mencoba membunuhmu!”, hasut Yeom Jong.
Bidam sempat marah dan mengarahkan pedangnya ke leher Yeom Jong.
“Harusnya aku membunuhmu sejak dulu.”
Tapi Yeom Jong tertawa. Dia pura-pura menertawakan nasib Bidam.
“Kamu lagi-lagi diabaikan. Kamu mengkhianati kita, dan sekarang Yang Mulia mengabaikan kamu!”, hasut Yeom Jung

Bidam terduduk lemas, jiwanya terguncang. Yeom Jong mencoba membujuk Bidam untuk bergabung dengan mereka. “Bukankah kamu ingin menjadi Raja”, rayu Yeom Jong. Bidam menghindar dia pergi dengan tubuh lunglai.
Kelompok Bidam cemas mereka menunggu Yeom Jong dan Bidam. Mereka membutuhkan Bidam.

Bidam menyandarkan tubuhnya ke sebatang pohon dan terduduk lemas. Dia teringat saat Deokman menolaknya. “Mencintai juga berarti mempertaruhkan semuanya untuk orang yang dicintai. Tapi aku sudah terlanjur memberikan semuanya untuk negeri, jadi tidak ada tempat untuk cinta seseorang. Apa ini salah?”
Juga teringat saat Deokman bersamanya di saat kematian ibunya. “Paling tidak kamu harusnya menceritakannya kepadaku”, kata deokman “Tapi apakah berguna jika ku mengatakannya?. Aku paling tidak mau menjadi tak berguna bagimu”, jawab Bidam dulu
Bidam meraih cincin pemberian ratu. Dia melihatnya dan menggenggam kuat cincin itu penuh perasaan.

Ratu menulis surat.
Bahwa ini akan jadi tugasnya yang terakhir.
“Setelah semua ini selesai saya akan turun tahta dan pergi ke Chun Ah Gun. Jadi, buatlah sebuah rumah kecil di sana, dan tunggulah aku. Walaupun hanya sejenak, saya berkeinginan menghabiskan hidup bersamamu. Deokman.”

Deokman menyerahkan surat itu kepada Juk bang. Dia minta Jukbang ke Chun Ah Gun dan memintanya harus memberikan surat itu kepada Bidam.
(Bidaaam dia ga pengen bunuh kamu…Deokman akhirnya pengen hidup sama kamuuuu…)

Bidam masih duduk di bawah pohon.
“Kalau memang tahta itu begitu membebanimu sehingga kamu harus mengabaikanku dan malah membunuhku, maka aku akan menurunkan apa yang menjadi bebanmu.” (menurunkan tahta maksudnya? Menurunkan kekasih dari tahta demi cinta? )

Kubu Bidam bertanya keberadaan Bidam pada Yeom Jong.
Tiba-tiba Bidam yang telah berpakaian rapi datang dengan percaya diri. (cakep deh)
Bidam memimpin kelompoknya. Dia berkata dia tidak akan menarik pasukannya. Justru dia akan menuju Sorabol. Bidam mengambil pelajaran dari pemberontakan Mishil dahulu. Bahwa jika ingin tuntutan dianggap sah maka harus berada di Sorabol.
“Kita akan meyingkirkan ratu dan saya akan menjadi raja”, ujar Bidam.
Faksi mendukungnya。Bidam memerintahkan pasukannya siap-siap. Karena mereka akan bergerak sebelum fajar.

Di kamp pemberontak Bidam membuat siasatnya (Bidam gagah deh pake baju perang). Dia memerintahkan pasukan Hojae bergerak menuju Yeodo (jalan menuju Benteng Wol istana ratu) dan memerintahkan pasukan Piltan bersembunyi di dekat Benteng MyungHwal.
Ratu memerintahkan dengan daya upaya untuk mencegah pasukan masuk ke Wolseong (Benteng Wol), Sorabol. Ratu memerintahkan Yushin menuju Yeodo.
Bidam menyuruh pasukan Bojong dan Bangsawan Jujin membantu Hojae di Yeodo, tetapi mereka harus cepat mundur jika diperintahkan.
Kim Seoh Yeon panik bahwa lawan mengerahkan kekuatan penuh ke Yeodo.Dia memerintahkan pasukan dari gunung Nan dan wilayah lain membantu Yushin.
Bidam menyuruh pasukan Piltan beraksi di benteng MyungHwal dan memerintahkan pasukan Bojong, Jujin dan Hojae mundur ke gunung Nan.
Baik pihak Bidam atau pihak ratu tidak ada yang menyangka bahwa Bidam sebenarnya tidak mengincar Wolseong melainkan benteng MyungHwal di gunung Nan.

Pasukan Bidam berhasil masuk dan menguasai Benteng MyungHwal dengan mudah karena benteng tersebut kosong. Sekarang di ibukota ada 2 kekuatan besar saling berhadapan. Jarak benteng Myunghwal ke istana adalah 15 menit dengan pasukan berkuda.
Misaenglah yang bisa menebak bahwa rencana Bidam selanjutnya adalah menyebarkan berita tentang keberadaan pasukan mereka dan membuat rumor agar para bangsawan dan rakyat mulai ragu akan kewenangan dan kemampuan ratu.

Alcheon mendapat laporan bahwa ada satu orang anggota pengawal istana yang hilang Heunsuk dan gerak geriknya sebelumnya mencurigakan.

Jukbang berada di Chun ah Gun dan heran mengapa Sangdaedeung belum tiba di tempat itu. Santak mengiyakan dan bermaksud mengambil surat itu. Tapi ratun berpesan, Jukbang harus memberikannya langsung pada Bidam.

Bidam memberitahukan bahwa di pihaknya ada Bangsawan Seulbu, Jujin, Hojae, dan dengan dirinya Perdana Mentri total ada 7 dari 10 anggota dewan istana yang berpihak padanya. Bidam bermaksud mengundang mereka untuk mengadakan rapat dewan istana.

Malam itu Bidam mengenggam cincin deokman dan memikirkan sesuatu.

Dewan istana pimpinan Sangdaedeung menetapkan penurunan ratu dari tahta dan mengeluarkan pernyataan.
“Menimbang bahwa selama ini Ratu telah gagal mempertahankan tanah warisan raja Jin Heung. Dan seringnya negeri kita diserang oleh Baekje dan Koguryo bahkan benteng Daeya telah jatuh ke tangan musuh. Utusan Tang pun meredahkan penguasa kita karena seorang perempuan. Pesan keramat di perahu Raja Ashok pun telah menunjukkan ratu akan segara turun dan digantikan oleh raja baru. Bukankah ini semua pertanda dari surga. Kami menetapkan untuk menurunkan ratu. Dan ratu agar meletakkah jabatan-jabatan pemerintahannya. Dewan Istana Perdana Menteri Bidam.

Jukbang dan Santak membaca pengumuman tentang penurunan ratu.
Jukbang nekad ingin pergi ke benteng Myunghwal menemui Bidam. Dengan bantuan Santak, Jukbang berhasil menemui Bidam dan menyerahkan surat dari ratu.
Bidam membacanya cepat kemudian meremasnya dengan marah. Bidam tidak percaya bahwa ratu mengirim Jukbang. Bidam mengira ini trik dari Chunchu karena Jukbang melayani Chunchu. Jukbang meyakinkan bahwa ratu betul menulis surat itu sendiri. Bahwa hal yang salah sebenarnya telah terjadi. Santak juga mengiyakan bahwa Jukbang dari tadi malam menunggu Perdana Mentri di Chun Ah Gun semalaman. Dan bertaruh nyawa untuk menyampaikan surat ini.
Bidam membaca ulang dan nyaris tersentuh tapi kemudian dia tertawa. Dia berkata dia tidak akan tertipu lagi.
“Katakan pada Chunchu dan Yang Mulia, bahwa Bidam hidup. Bahwa orang yang begitu ingin mereka bunuh masih hidup!”
Bidam menemui Santak secara pribadi. Dia menyuruh Santak menyelidiki pengawal istana Heunsuk yang nyaris membunuhnya.
Mata-mata Yeom Jong mendengar perintah Bidam. Yeom Jong mulai bergerak.

Di istana ratu dan keluarga istana membaca ketetapan dari Dewan Istana. Ratu menganggap ketetapan ini tidak sah jika tidak dihadiri Perdana Mentri. ChunChu bicara bagaimana jika memang benar Bidam ada di sana (Deokman masih berharap Bidam ada di Chun Ah Gun).

Istana dikirimi seorang mayat di atas kuda. Mayat itu adalah pengawal istana Heunsuk yang hilang (mata-mata yang coba bunuh Bidam). Di leher mayat tersebut tergantung seuntai cincin. Cincin ratu yang diberikan kepada Bidam.
“Ini benar Bidam…”

Ratu menggenggam cincin dengan kuat cincin itu. Para keluarga mendesak agar Yang Mulia mengeluarkan keputusan sehubungan dengan ketetapan dewan istana yang telah mengguncang negeri.
Akhirnya ratu memutuskan memecat Bidam dari jabatan Perdana Menteri dan menganggapnya musuh Negara. Rakyat di segala penjuru diminta untuk membunuh para pengkhianat dimana pun mereka berada.

Deokman meminta Alcheon diam-diam menyelidiki tentang Heunsuk pengawal istana yang terbunuh.
(Kenapa ya DM dan Bidam memutuskan dulu, baru menyelidiki. Harga diri dan jabatan lebih mendominasi keputusan mereka. Kasian mereka)

Alcheon mendatangi rumah Heunsuk, tapi keluarga mereka baru saja dibantai. Seorang wanita yang lolos dari maut menyebut nama YeomJong. Santak juga mendengarnya. Santak bergegas pergi.

Jukbang datang melapor kepada Ratu. Jukbang menganggap telah terjadi kesalahpahaman. Bidam beranggapan Ratu telah mengirim orang untuk membunuhnya. Alcheon datang dan melaporkan tentang Yeom Jong. Jukbang berkata bahwa selama ini YeomJong lah yang mengadu domba Bidam dan Deokman. Jukbang bertanya mengapa Yang Mulia tidak membatalkan keputusannya.
Deokman menyayangkan mengapa Bidam tidak mengkonfirmasi dulu hal ini kepadanya. (sayangnya Bidam waktu itu lagi galau)
“Mengapa kepercayaan antara mereka begitu rapuh. Sekarang ini tidak ada yang bisa kulakukan untuk Bidam” (ooh…no!)
Deokman tiba-tiba merasakan sakit di dadanya (kena serangan jantung, karena si jantung hati…)

Bidam merasa tidak tenang. Dia tak sabar menantikan kedatangan Santak. Dia membuka lagi surat ratu yang telah diremasnya. Hatinya mulai trenyuh. Dia berteriak menanyakan Santak.
Dukungan bangsawan kepada Bidam mengalir.

Yushin menemui Ratu melaporkan situasi terakhir. Yushin mendengar tentang Yeom Jong dan bersimpati akan kesalapahaman ini.
“Kadang kesalahpahaman muncul karena ketidaksengajaan. Dan kadang sejarah tercatat karena ketidaksengajaan.
Deokman lalu curhat.
“Apa benar aku memanfaatkan Perdana Mentri untuk mengambil pasukan dari para bangsawan. Apa benar aku menikahi Bidam untuk menyingkirkan mereka. Tapi impian terakhirku untuk mundur dari tahta dan hidup bersamanya adalah tulus...”

Bidam keluar mencari Santak. Tapi dia bertemu YeomJong. Dia berkata pada Yeomjong jika bertemu Santak tolong bawa dia kepadanya.

Seorang kurir datang menemui Perdana Mentri Bidam dan membawa kertas pengumuman. Bidam membacanya kemudian melemparnya dengan marah.
“Bidam telah dipecat dari Perdana Mentri dan dinyatakan sebagai musuh Negara. Semua rakyat diminta menumpas pemberontak dan membunuh Bidam”

Bidam marah. “Ini kah Yang Mulia yang menginginkan menghabiskan saat terakhirnya denganku!”
(lagi-lagi salah paham ).
Yeom Jong berkata bahwa semua pasukan telah berkumpul.
Ratu mendapat laporan bahwa rakyat secara sukarela datang berkumpul ke istana untuk melindungi ratu. Ratu datang menemui rakyatnya.

Bidam datang menemui para pengikut/pasukannya.
Bidam berpidato
“Bahwa Negara sekarang sedang menangis. Karena ratu yang tidak kompeten. Negara kita telah dijajah dan kita kehilangan.Kita harus membangun negeri suci kita yang baru.

Deokman di istana juga berpidato
“Negara kita sedang dalam bahaya. Karena para bangsawan yang tidak mau mengalah rakyat jadi kehilangan. Kita harus menumpas pemberontak untuk kebesaran negeri kita”

QSD Ep.60                                     QSD Ep.62 (Final)

OST Queen Seon Deok MV 

Balbam balbam



Lyrics
gyeotedo meollido gal su eobseo
nunedo mamedo dul su eobseo
charari idaero nuni meoleo
nareul boneun neojocha mollateumyeon
balbam balbam geoleo na ehgero ohneun
cheon gae sokeuh balsorido
geudaeran geol aneunde
balbam balbam geoleo nunmulgileul jina
haruharu dolaseo sal su iteulgga
balbam balbam geoleo na ehgero ohneun
cheon gae sokeuh balsorido
geudaeran geol aneunde
balbam balbam geoleo nal ddeona gado
gyeowogyeowo nae ane pumeoyaji
uleo uleo uneun geu maeumggaji
(princess-chocolates.blogspot.com)


Wind Flower with eng. subtitle
http://www.youtube.com/watch?v=woyekvS0iCw
credit to ppultaeangyeong


Lyrics
ihdaeroh
dolaseolgeomyeon
sarajilgeomyeon
pieonaji anaseo

ihreokgeh
barabomyeonseo sumi makhimyeon
nuneul gameunchae sal ado joeulgga

boji anado boyeoseo
deutji anado deulyeoseo
geudae sumgyeoleh dasi sal anan baramggotcheoreom

gago sifeodo motganeun
an goh sifeodo motanneun
geudae songgeutih naemameh daeuhni
gin gin bamih jinagoh namyeon algga
nunmul sokeh utgoh ihtneun sarangeul
jabgoh sifeodo motjabneun
gagoh sifeodo motganeun
geudae maheumeh dasi sal-anan baramggotcheoreom

boji anado boyeoseo
deutji anado deulyeoseo
barameh sillyeo heuteohjeo nallimyeo
geudae maheumeh heuteohjeo nallimyeo
(princess-chocolates.blogspot.com)


Come People of God
http://www.youtube.com/watch?v=T4WNgIoEDz8
credit to dragoncarps

OST A Love to Kill


A Love to Kill by Lee Soo Young

Zriously (^_^) | MySpace Video

December 27, 2009

IRIS episode 4

Vick akhirnya membunuh semua rombongan. Dia mencari sebuah flash disk tapi tak menemukannya. Vick ini diperintah oleh seseorang bernama Mr. Black.
Seung Hee, Sa Woo dan Hyun Jun masih menikmati liburan di hungaria. Sa Woo menyembunyikan perasaan cemburunya dan berkata bahwa dia merestui Seung Hee dan Hyun Jun. Tiba-tiba Hyun Jun mendapat telepon dari seseorang dan meninggalkan mereka berdua untuk menemui seseorang.

Hyun Jun tiba di lokasi pertemuan. Dia tak menyangka bahwa Direktur NSS, Baeksan, langsung yang menemuinya. Baeksan meminta Hyun Jun beroperasi seorang diri dan rahasia untuk membunuh pimpinan korea utara. (mengulang preview ep. 1)
Hyun Jun kembali menemui Sa Woo dan Seung Hee. Namun Hyun Jun tidak bisa menceritakan misinya kepada mereka. Hyun Jun meminta Sa Woo meninggal kan mereka berdua sementara. Sa Woo mengerti. Hyun Jun dan Seung Hee menghabiskan sisa waktu bersama-sama. Hyun Jun merasa gugup seperti itu hari terakhirnya melihat Seung Hee. Seung Hee berusaha menghibur dan memintanya untuk berhari-hati. Terakhir Seung Hee mencium Hyun Jun.
Di kamar hotelnya Hyun Jun akhirnya memberikan kode kepada Sa Woo bahwa misi ini menyangkut orang penting.

Hyun Jun menyewa sebuah kamar apartemen kecil untuk mempersiapkan misi rahasianya. Dengan menyamar sebagai turis dia melihat-lihat, menyelidiki dan mengambil foto-foto di lokasi misinya nanti.
Sa Woo dan Seung Hee menemui direktur Baeksan menanyakan misi Hyun Jun dan menawarkan bantuan, tapi tak direspon. Hyun Jun menelepon Direktur Baeksan melaporkan bahwa tempat itu dijaga ketan oleh agen Korut dan kepolisian Hungarian. Namun direktur tetap meminta Hyun Jun menuntaskan misiya
Hari- H tiba, Hyun Jun menghabisi seorang sniper pelindung korea utara dan menggantikan posisinya. Target pun datang dikawal polisi dan agen rahasia. Kepala Keamanan Park Chul Young mencurigai tempat Hyun Jun tapi terlambat. Agen korea utara Kim Sun Hwa juga berusaha melindungi pemimpinnya tapi terlambat..Hyun Jun berhasil menembak target (preview ep. 1),

Hyun Jun langsung berusaha meloloskan diri dari tempat kejadian. Para para agem Korut mengejarnya. Tembakan Agen Park berhasil mengenai perut Hyun Jun (preview ep. 1). Hyun Jun terus berusaha lolos, Agar tak dicurigai walau tertembak dia berusaha berjalan senormal mungkin menuju stasiun subway. Di jalanan agen korut dan kepolisian Hungaria terus mencari Hyun Jun. Dalam keadaan sakit dan kepayahan Hyun Jun terus berjalan menuju apartemennya. Di depan apartemen dia tak sengaja bertubrukan dengan orang bersepeda. Ternyata pengendara sepeda tersebut melihat luka Hyun Jun dan melaporkannya ke polisi.

Hyun Jun masuk ke apartemennya dalam keadaan payah (kasian banget). Dia menghabiskan botol minuman, dan menelpon direktur Baeksan. Hyun Jun melaporkan misinya telah berhasil tapi dia diburu polisi. Dia juga bilang tertembak dan beresiko tertangkap dan minta bantuan secepatnya. Tapi direktur menolaknya karena takut identitas mereka terkuak jika mengirim agen tambahan. Hyun Jun terhenyak dan berkata bahwa dia masih perlu pulang dalam keadaan selamat dan memohon pada direktur. Direktur mengabaikannya.
Hyun Jun mengambil kotak obat dan berusaha sendiri mengeluarkan peluru di perutnya (paling ga tega lihat yang kayak gini).
Peluru berhasil dikeluarkan, Hyun Jun terduduk lemas, namun dia tetap siaga dengan pistolnya.

Setengah tersadar dia teringat cerita Seung Hee tentang legenda danau Akita.
Seung Hee bercerita dulu kala seorang wanita cantik minum sesuatu yang telah dimantrai. Dan wanita itu berubah menjadi naga di suatu danau, Begitu juga kekasihnya menjadi naga di danau yang lain yang jauh. Saat musim dingin mereka bertemu di danau ini untuk membagi cintanya. Dan itulah mengapa menurut legenda danau tersebut tak pernah beku walau musim dingin. Hyun Jun heran karena untuk mencintai orang berubah menjadi monster. Seung Hee cemas karena pekerjaan mereka, bisa jadi mereka kemudian terpisah dan menjadi monster di tempat berbeda.

Polisi Hungaria berhasil melacak keberadaan apartemen Hyun Jun. Direktur Baeksan memanggil Sa woo dan berkata bahwa Hyun Jun terluka dan berbahaya jika tertangkap. Sa Woo segera pergi dengan mobilnya.

Seung Hee tidak menemukan Hyun Jun dan Sa Woo. Dia bertanya kepada Direktur apa misi mereka. Tapi Direktur tak menjawab dan myuruh Seung Hee bersiap pulang ke Korea esok pagi.

Hyun Jun tertidur lemas di apartemennya. Kepolisian Hungaria dan agen Korut telah memblokade apartemen Hyun Jun. Sa Woo tiba di lokasi.
Hyun Jun terbangun mendengar ketukan pintu kamarnya diketuk. Dia bersiaga. Begitu leganya Hyun Jun melihat Sa Woo. Dia menyuruh Sa Woo masuk dan bersiap-siap pergi.
Hyun Jun berbalik dan kaget mendapati Sa Woo tengah menodongkan pistol kepadanya.
“Hey, Sa Woo”, ujar Hyun Jun heran.
Sa Woo tak bergeming “Maafkan saya. Ini perintah”

Adam bagi rapor

Adam udah bagi rapor semester 1. Anak play group juga keren dong punya rapor. Hasil kerjaan adam selama evaluasi juga dibagiin. Ada mewarnai, melipat, maze juga  menulis angka. Tapi ternyata adam belum mau mencocok gambar dan menempel kolase masih males. Dia di sekolah paling males kalo jam makan. Kata bu guru adam makan rotinya suka disuapin temen cewenya di kelas, chacha. Sampe suka dikejar-kejar chacha karena adam ga mau makan. Duh mama harus terimakasih sama cha cha nih.

IRIS episode 3

Hyun Jun teringat saat kecil dia pernah berada di ruang Blue House tersebut bersama ke dua orang tuanya. Hyun Jun mulai merasa tak nyaman. Sa Woo tidak percaya dan menganggap Hyun Jun gugup bertemu presiden.

Presiden bertanya tentang NSS ke stafnya. Dia merasa heran tak pernah mendengar
Nama organisasi tersebut. Presiden dijelaskan bahwa NSS organisasi rahasia bahkan tertutup dari organisasi resmi pemerintah pun. Beliau akhirnya mengetahui bahwa NSS pernah terlibat program nuklir namun kemudian tak dilanjutkan

Saat libur Hyun Jun mengajak Seung Hee ke panti asuhan tempat dia dibesarkan. Dia menanyakan tentang orang tuanya kepada pendeta pengurus panti. Pendeta tidak memberikan jawaban yang berarti.
Setelah Hyun pergi pendeta menelpon Baeksan.

Hyun Jun, Sa Woo dan Seung Hee mendapat cuti liburan setelah selesai menjalankan misi yang berat. Hyun Jun mengajak Seung Hee ke Akita, Jepang. Seperti layaknya pasangan yang jatuh cinta mereka menimati perjalanan mereka dan memesan satu kamar. Tak lupa mereka pergi ke pemandian air panas (Onsen) dan berkenalan dengan seorang remaja putri bernama Yuki. Mereka bercinta, berjalan-jalan, bermesraan dan bermain ski dengan romantis. Mereka melihat sebuah patung dan Seung Hee menceritakan legenda tentang tempat itu.

NSS mendapatkan misi untuk membebaskan doktor ahli nuklir dari korea. Ke tiga agen tersebut dikontak untuk tugas mendadak. Sa Woo berhasil cepat dihubungi dan berangkat terlebih dahulu ke Budapest Hungaria. Hyun Jun dan Seung Hee walau sempat susah dihubungi akhirnya menyusul ke Hungaria.

Di Hungaria Jin Sa Woo berhasil menuntaskan misinya seorang diri dan membawa doktor ke tempat yang aman. Hyun Jun dan Seung Hee tiba di Hungaria, Sa Woo “menginterogasi” Hyun Jun, kemana dia selama ini pergi dengan Seung Hee. Sa Woo bertanya nasib wanita yang dulu dicintainya saat di tempat kuliah. Hyun Jun berkata bahwa wanita yang dulu itu adalah Choi Seung Hee. Sa Woo terpana.

Doktor tsebut meminta suaka ke Korea Selatan. Ke tiga agen itu ditugasi mengorek keterangan dan mengurus keberangkatannya ke Korea. Sebelum berpisah doktor menyerahkan sebuah kalung kepada Hyun Jun.

Ke tiga agen mengantar doktor ke bandara kecil. Di sana mereka menyelesaikan misinya danmenyerahkan doktor ke tangan agen lain yang akan membawa mereka ke korea selatan. Saat doktor menuju ke pesawat rombongan mereka diberondong oleh agen musuh Vick (TOP).

December 26, 2009

IRIS episode 2


Hyun Jun secara tak terduga berhasil bertahan dari tes yang sulit. Dia bahkan memberontak dan berusaha kabur membawa Sa Woo. Tapi keduanya tidak berhasil kabur. Akhirnya mereka diberitahu bahwa ini merupakan tes akhir dari serangkaian pengamatan untuk menjadi agen NSS. Mereka akhirnya menerima tawaran menjadi agen NSS.
Setelah menjalani training mereka diterima dan mulai bekerja di NSS. Mereka diperkenalkan kepada tim Leader mereka Ke dua sahabat itu tak menduga bahwa atasan mereka adalah Choi Seung Hee. Dan ke duanya pun tak mengetahui bahwa mereka mencintai orang yang sama. Dalam masa pengenalan terlihat Hyun Jun lebih berusaha menarik perhatian Seung Hee. Berbeda dengan Sa Woo , dia termasuk tipe laki-laki yang memendam perasaannya.

Pada suatu kesempatan makan di restoran. Hyun Jun menemui Seung Hee secara pribadi. Dia merasa Seung Hee mengerjainya mulai dari pertemuan di universitas. Hyun Jun menyuruh Seung Hee menjadi aktris saja. Seung Hee marah dan merendahkan mengata-ngatai bahwa Hyun Jun bukan tipenya. Tiba-tiba Hyun Jun nekad mencium bibir Seung Hee.

Di kantor NSS, di tempat yang tidak terlihat oleh CCTV Seung Hee menemui Hyun Jun. Dia meresa Hyun Jun menganggap remeh dirinya juga NSS. Tapi Hyun Jun berkata sejak awal bertemu di universitas dia tidak menganggap Seung Hee remeh. Dia juga tidak menganggap NSS tidak penting. Dia menyukai NSS yang menurutnya tempat yang cocok untuknya walau dia harus mempertaruhkan nyawanya dalam pekerjaannya.

Hyun Jun dan Sa Woo mendapat tugas pertama menangani teroris berkebangsaan Jepang. Dalam pengintaian yang ke dua. Hyun Jun dan Sa Woo kaget bahwa Seung Hee tidak segan segan menggunakan kemolekan dirinya mendekati terori secara pribadi. Penyamaran Seung Hee terbongkar, Hyun Jun dan Sa Woo berusaha menolong Seung Hee. Seung Hee aman mereka pun mengejar teroris tetapi teroris ditembak agen musuh. NSS terus menyelidiki siapa dan ada apa dibelakang aksi teroris. Hyun Jun mencurigai teroris sebenarnya mengincar kandidat terkuat presiden. Hyun Jun dan Sa Woo berhasil melindungi kandidat dari serangan teroris.

Misi pertama berhasil. Seung Hee mengundang Hyun Jun dan Sa Woo ke rumahnya untuk minum bersama. Mereka mabuk dan tertidur di karpet. Di saat terbangun Sa Woo kaget mendapati Hyun Jun tidur dalam pelukan Seung Hee.

Kim Hyun Jun dan Jin Sa Woo diundang ke Blue House (Istana Presiden Korea Selatan). Kandidat yang dulu mereka selamatkan telah berhasil dilantik menjadi presiden. Presiden ingin bertemu secara pribadi dengan kedua agen yang telah menyelamatkan nyawanya. Hyun Jun merasa dia tidak asing lagi di tempat itu Dia merasa pernah berada di tempat itu sebelumnya saat dia masih kecil.

December 25, 2009

IRIS episode 1


Preview、Budapest Hungaria
Kim Hyun Jun ditugasi atasannya sebuah misi rahasia untuk membunuh pemimpin Korea Utara. Misi ini harus dijalankan sendirian. Setelah mengadakan riset, Hyun Jun berhasil menjalankan misi tersebut. Sayang, dia tertembak saat berusaha meloloskan diri dari tempat kejadian Hyun Jun yang terluka berusaha menghubungi atasannya. Namun atasan yang diharap membantunya mengabaikannya. Sahabatnya Jin Sa Woo yang dikira mencariya malah menodongkan pistol kepadanya Kim Hyun Jun yang terluka diburu oleh polisi dan agen Korea Utara. Akhirnya sebuah tembakan dari helicopter membuatnya terkapar.

Awal Cerita
Sekolah Militer, Korea Selatan
Kim Hyun Jun dan Jin Sa Woo adalah teman seangkatan dan sekamar dalam pelatihan militer. Mereka memiliki kemampuan setara dan merupakan pemimpin kelompok. Meraka saking akrabnya saling menganggap saudara.
Kim Hyun Jun selain menjalani latihan militer dia juga ikut kuliah di politik di universitas. Di sana pertama kalinya dia bertamu wanita Choi Seung Hee dan jatuh cinta pada hari pertama kuliah. Dia bercerita kepada sahabatnya Sa Woo. Pada kesempatan berikutnya mereka berdua pergi minum di restoran. Seung Hee mengetahui kelebihan Hyun Jun dalam memori. Tapi kemudian Seung Hee menghilang tanpa jejak.

Jin Sa Woo bertemu dengan kakak kelasnya dari daerah asalnya. Kakak kelasnya memperkenalkan koleganya yang tak lain adalah Choi Seung Hee. Sa woo jatuh cinta pada pandangan pertama dan bercerita pada Hyun Jun dia berhasil bertemu wanita impiannya.
Sa Woo dan Hyun Jun diam-diam pergi ke bar tanpa ijin. Mereka tak sengaja terlibat perkelahian dengan gank pemuda setempat. Hyun Jun berhasil lolos tetapi Sa woo tidak beruntung dan tertangkap polisi. Sa Woo mendapat hukuman di tempat kamp latihan militer, Hyun jun yang setia kawan mengaku terlibat juga dan mereka berbagi hukuman.

Suatu malam Jin Sa Woo dan Hyun Jun secara tak terduga dibawa ke kamp rahasia. Keduanya secara terpisah menjalani berbagai tes ketahanan. Terlihat Choi Seung Hee ikut mengawasi jalannya tes. Hyun Jun bertahan, dan memberontak keluar dari ruangan. Hyun Jun mencari Sa Woo,dan berusaha meloloskan diri dari tempat asing itu.

Drama Korea IRIS

Ini drama yang patut diperhitungkan di tahun 2009 dan baru-baru ini menyelesaikan episode terakhirnya di KBS 2. Drama ini bertabur dengan top star Korean wave. Drama dengan biaya pembuatan termahal ini mengambil lokasi shooting di mancanegara Budapest Hungaria juga Cina dan Jepang. Tak heran jika program ini memiliki rating tertinggi di hari dan jam tayangnya dengan poin rata-rata 30 %.

Judul : IRIS
Episode : 20
Genre : Action, thriller, romance
Cast :
Lee Byung Hun sebagai Kim Hyun Jun
Kim Tae Hee sebagai Choi Seung Hee
Jung Joon Ho sebagai Jin Sa Woo
Kim Seung Woo sebagai Park Chul Young
Kim So Yun sebagai Kim Sun Hwa
T.O.P sebagai Vick

Produksi : Taewon Entertainment
Sutradara : Kim Kyu Tae, Yang Yoon Ho
Stasiun TV: sudah ditayangkan di KBS 2 berakhir tanggal 17 Desember 2009. Sedang ditayangkan di KBS World

Rangkuman
Kim Hyun Jun adalah agen rahasia yang bekerja untuk NSS (National Security Service). Choi Seung Hee adalah seorang psiko analisis yang membawa Hyun Jun dan Jin Sa Woo ke NSS yang mencintai Hyun Jun. Jin Sa Woo adalah teman seangkatan Kim Hyun Jun yang sudah seperti saudara. Dia memendam cintanya terhadap Seung Hee. Vick adalah agen rahasia yang berseberangan dengan Hyun Jun.
Hyun Jun ditugasi suatu misi rahasia di Hungaria. Setelah berhasil dia terluka oleh agen korea utara. Tapi ternyata dia dikhianati oleh teman kepercayaannya Jin Sa Woo. Seung Hee berusaha menolong namun sebuah ledakan bom mobil memisahkan mereka. Keduanya mengira pasangan mereka telah mati. Kim Hyun Jun diselamatkan oleh “The Voice” yang memberitahunya keberadaan organisasi IRIS.
Setelah bertahan hidup di Jepang, Kim Hyun Jun atas bantuan agen korea utara Kim Sun Hwa kembali ke korea selatan untuk membalas dendam

Trailer

Noticeable Korean Drama, "IRIS" 6040

Master In Net | MySpace Video


Personal Opinion:
Kesan awal nonton ..Wow..ini drama atau film. Terus terang lain dari drama yang biasa aku lihat. Tak heran bahwa IRIS ini juga sudah disiapkan versi filmnya yang segera tayang. Tak lupa sudah beredar kabar akan ada IRIS season 2.

December 24, 2009

Queen Seon Deok Episode 60

Kesalahpahaman Awal Keretakan

Pesan itu berupa ungkapan 2 bait puisi. Ratu menyuruh Bidam membacanya dengan keras bidam hanya diam. Akhirnya chunchu membacanya dengan berat hati. Shinjuk Hosejon
Bait pertama : berkaitan dengan Budha
Bait ke dua: berkaitan dengan naik tahta
Nama Bidam sendiri berarti Budha. Jadi disimpulkan bahwa Bidam akan menjadi raja Kerajaan Suci.
Bidam akhirnya curiga bahwa kejadian ini pasti berkaitan dengan perbuatan kelompoknya. (Misaeng biasanya ahli bikin-bikin tipuan kayak gini).

Ratu dan chunchu menganggap kejadian yang mengguncang tahta ini tak bisa ditolerir lagi. Chunchu memimpin sendiri pasukan dari kementrian pertahanan untuk menyelidiki langsung tempat munculnya perahu di dermaga.. Akhirnya tim mengetahui bahwa perahu itu datang dari Ulsan dan dan ada ahli perahu bernama Yucheok. Yeom Jeong dan anak buahnya berusaha menghilangkan jejak. MEreka sama-sama mencari Yu cheok untuk tujuan yang berbeda. Yucheok yang nyawanya terancam minta perlindungan kepada pasukan ratu. Namun dari jauh anak buah Yeom Jeong menghujaninya dengan panah. Salah satu panah itu mengenai Chunchu dan pasukan pun mundur.

Ratu cemas dan marah. Untung luka Chunchu tidak mengenai bagian vital. Chun chu berkata bahwa mereka bermaksud membunuh si pembuat perahu. Tapi Ratu berkesimpulan bahwa mereka juga mengincar nyawa Chun Chu.


Ratu meminta diadakannya pertemuan darurat dengan para pejabat kerajaan. Namun ratu berpesan pada Alcheon agar Bidam dijaga di suatu tempat jangan sampai muncul di pertemuan. Setelah rapat selesai Ratu akan bertemu dengan Bidam.
Ratu marah akan adanya usaha asasinasi terhadap keluarga kerajaan dan meminta Kim Yong Chun untuk menginvestigasi masalah ini dengan tuntas.

Chun chu menemui Bidam. Chun chu tahu bahwa Bidam tidak terlibat masalah ini. Tapi dia menyalahkan Bidam karena tidak bisa mengontrol lagi kelompoknya. Chun chu berkata bahwa mata Bidam telah dibutakan oleh cinta sehingga tidak bisa melihat kelakuan anakbuahnya yang terjadi di depannya.
Chun chu memanas manasi Bidam, “Dan memang menurut kamu Yang Mulia menaruh perasaan kepadamu?”
Bidam berkata bahwa Chun chu sekarang telah dewasa. Dulu Chunchu begitu takut kepadanya.
Chun chu berkata , “Kamu dulu memang begitu menakutkan. Dulu kamu orang yang tidak gampang ditebak, taktis dan kejam, tapi sekarang tidak lagi.”
Chunchu pergi. Dalam hati dia minta maaf kepada Bidam bahwa kelompok Bidam sudah terlalu di luar kontrol dan Chun Chu bermaksud menghabisi mereka semua termasuk Bidam. Karena menurutnya tidak ada tempat bagi laki-laki yang dikuasai oleh cinta.

Para bangsawan kelompok Bidam marah kepada Yeom Jeong karena percobaan pembunuhannya pada Chun chu membahayakan mereka semua. Tapi mereka semua tidak mungkin berani melaporkan Yeom Jeong karena takut nama mereka semua akan terseret.

Bidam dibawa menemui Ratu. Ratu berkata bahwa Dia percaya Bidam tidak terlibat tetapi kali ini kelompok Bidam sudah di luar kontrol Bidam
Bidam meminta Ratu menghukum mereka semua.
“Tapi nanti kamu terkena dampaknya ”, kata Deokman
"Ti dak apa-apa. Saya siap terima konsekuensinya, Yang Mulia"
"Tapi aku tidak siap"
Deokman mengeluarkan sebuah cincin,
“Kita belum sempat berbagi apa-apa.”
“Apa Yang Mulia bermaksud mengusirku pergi dari sini?”
Bidam merasa ada hal yang tidak beres.
Deokman memberikan cincin itu ke telapak tangan Bidam, lalu menutupkan cincin di telapak tangan Bidam dan menggegamnya tangannya dengan lembut.
“Pergilah ke perbatasan di Chun Ah Gun. Pergilah untuk sementara”, pinta Deokman. Bidam tak menyangka Deokman meminta seperti itu.
Bidam pergi dia teringat kata-kata Chun Chu. Apa mungkin Yang Mulia tidak mempunyai perasaan terhadapnya.Deokman mau melepaskan genggamannya, tapi Bidam menariknya kembali.
“Kamu percaya padaku bukan?”, ujar Deokman.

“Aku akan menyelesaikan semua masalah di sini.sampai semua reda. Tunggulah nanti aku akan memanggilmu kembali".
Deokman menarik tangannya. Bidam kecewa dan pergi dengan ragu,
Deokman berkata dalam hati "Bidam kita harus berpisah untuk sementara"
dan  berjanji akan menyelesaikan hal ini sementara Bidam pergi.
Bidam berkata dalam hati ” Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi”


Kubu Bidam rapat. Mereka merasa pihak istana telah curiga gerak-gerik mereka . Mereka berniat mengungsi ke pertambangan. Misaeng cemas karena Bidam harus berada di pihak mereka untuk rencana ini .Yeom Joong berkata dia percaya bisa mengurus hal ini. Dia memerintahkan mata-matanya di pengawal kerajaan untuk pura-pura berusaha membunuh Bidam.
“Bagaimana jika dia benar-benar terbunuh?”
“Jangan khawatir Dia adalah ahli pedang terbaik di negeri ini. Asal kau menyumpitnya jangan ketika dia bertarung. Tembakkan ketika dia senggang.

Bidam berkata kepada Santak bahwa dia akan pergi ke Chun Ah Gun dan meminta Santak mempersiapkan semuanya
Bidam termenung di rumah sendirian. Dia heran mengapa Ratu tidak membiarkannya ikut menyelesaikan masalah ini, malah menyingkirkannya. Dia teringat kata-kata Chunchu bahwa Dia dulu menakutkan tapi sekarang tidak. Dia mengambil pedangnya, dan berkata pada pedangnya “Kamu sudah menahan diri terlalu lama.”

Sebelum pergi Bidam ingin menyelesaikan masalah dulu dengan kelompoknya. Dia memegang pedangnya dengan mantap.
“Aku akan membereskan mereka!”

Yushin memenemukan gerakan mencurigakan pengikut Bidam, Ratu menyuruh menangkap mereka. Ternyata semua rumah mereka telah kosong mereka telah mengungsi..
Bidam dengan menyamar sebagai pengelana juga diam-diam menyelidiki hal ini (bajunya mirip baju Bidam pertama kali muncul, itu dah lama banget rasanya). Dia geram mengetahui pengikutnya telah bertindak sejauh ini. Bidam bertekad membunuh mereka.

Bidam mengikuti Yeom Joong dan anak buahnya. Seorang mata-mata mengikuti Bidam. Bidam mencegat rombongan Yeom Jong.
Dengan mudah Bidam dapat menghabisi pengawal Yeom Jong satu persatu (dewa pedang beraksi kembali nih…keren)
“Harusnya aku membunuhmu sedari dulu”, ujar Bidam.
Yeom Jung berusaha membujuk Bidam, tiba-tiba anak panah rahasia melesat ke arahnya. Bidam menghindar cepat dan menangkap mata-mata.
Bidam mengancam dengan menekan pedangnya ke leher orang itu
“Siapa yang menyuruhmu!”
Bidam membuka penutup mukanya dan tak percaya melihat sosok yang dikenalinya Dia mengenal orang itu adalah pengawal Ratu yang pernah ditemuinya.
“Siapa yang menyuruhmu!”, Bidam marah dalam kegamangan
Di belakang Yeom Jong memberi kode kepada mata-mata itu.
Mata-mata itu tiba-tiba berseru
“Habisi musuh negeri suci. Hidup Yang Mulia Ratu!”
Bidam kaget dan membunuhnya.
 
QSD Ep. 59                                    QSD ep.61

Queen Seon Deok Episode 59

Faksi Bidam Berulah

Ratu, Chunchu, Alcheon dan Yushin terkejut mengetahui bahwa Sangdeudeung/ Perdana Mentri menulis perjanjian rahasia untuk merendahkan Ratu.

"Bidam!”, Chunchu percaya ini bisa saja perbuatan Bidam.

Ratu terpukul dan kecewa., badannya lemas.


Bidam merasa bawahannya ingin menjebak dia dan membuatnya jadi pengkhianat. Mereka berkata bahwa Bidamlah yang terlebih dahulu mengkhianati mereka dengan mengadakan perjanjian rahasia dengan Yang Mulia. Bidam terkejut dia tak menyangka sumpah setianya pada Yang Mulia sudah diketahui orang dan dijadikan bumerang untuk menyerangnya. Para bangsawan kecewa karena Bidam sebagai atasan mengabaikan mereka dan tidak mempertimbangkan jasa mereka dalam membuat ratu naik tahta.


Misaeng berkata bahwa mereka pun akan menyingkirkan ratu.

Chunchu mendesak Yang Mulia untuk segera menghukum Bidam karena melanggar hukum. Namun ratu meminta agar Chunchu tidak bertindak apapun mengenai hal ini tanpa ijinnya。


Bidam sangat emosi dan ingin menemui para utusan. Namun penjaga tidak mengijinkan Bidam bertemu tanpa ijin ratu. Penjaga istana melapor pada Alcheon bahwa Bidam bersikeras menemui para utusan. Chun chu menyuruh Alcheon membiarkannya.


Kelompok Bidam menginginkan Bidam berada di depan memimpin mereka. Mereka beranggapan bahwa dengan memojokkan Bidam, Bidam terpaksa akan kembali kepada mereka. Mereka merasa Bidam pantas jadi raja berikutnya karena dia keturunan raja Jinji dan Mishil. Dia juga berkedudukan sebagai Sangdeudeung dan lama menjabat jadi Ketua Sarangbyu. Lagi pula ratu memang tidak mempunyai keturunan/pewaris. (emang pantes dan masuk akal menurutku juga sebenarnya)


Bidam berkata kepada utusan Tang bahwa perjanjian itu tidak ada kaitannya dengan dirinya. Bidam meminta agar utusan mengembalikan kipas bulu itu. Utusan mengatakan kipas sudah tidak ada pada mereka. Mereka justru telah meminta penjaga menyerahkan kipas kepada Sangdeudeng. Bidam menanyai penjaga dan akhirnya mengetahui bahwa kipas itu ada di tangan Ratu.


Bidam panik dan mendapati dia mulai kehilangan kontrol dirinya, tangan bidam mulai gemetar. Bidam mengingat kejadian kelam saat dia pernah meracuni dan membunuh semua orang yang memukulnya dan mengambil sesuatu miliknya. Tangan Bidam kembali gemetar.


Bidam memutuskan untuk menemui Yang Mulia di istana.

Para bawahan dan faksi bidam tak menyangka Bidam nekad menemui ratu. Mereka mulai panik. Mereka menyiapkan pasukan untuk hal-hal yang tak terduga.


Bidam menemui ratu. Chunchu, Yushin, Alcheon memandang Bidam dengan tatapan tak percaya. Ratu mengeluarkan kipas bulu dan mengatakan sepertinya para utusan ingin menyogokmu.

Bidam mengaku dan berterus terang berkata bahwa kipas ini adalah perjanjian rahasia mereka. Bidam berkata bahwa orang-orang dan para pejabat di bawahnya telah mengetahui perjanjian rahasianya dengan ratu. Mereka merasa terancam jika Bidam berniat keluar dari politik sehingga mereka balik mengancamnya.

Chun chu masih tidak mempercayai Bidam dan menyalahkan Bidam karena bagaimanapun utusan itu tlah merendahkan Yang Mulia.

Tapi syukurlah Yang Mulia masih tetap mempercayai Bidam.

Bidam meminta Yang Mulia mempercayakan kepadanya untuk mengatasi masalah ini karena masalah ini disebabkan olehnya.


Kelompok Bidam cemas apa yang dibicarakan Bidam dengan ratu. Bidam berbohong berkata Ratu belum mengetahui adanya perjanjian rahasia. Bidam menjelaskan Ratu hanya mengira utusan Tang memberikan kipas bulu sebagai sogokan.

Kemudian Bidam mengancam kelompoknya jika suatu saat mereka berani bertindak dibelakangnya dan mengkhianatinya lagi Bidam tak segan segan menghabisi mereka di tempat.

Salah seorang Bangsawan berkata bukankah Bidam yang lebih dulu bertindak diam-diam dengan Yang Mulia.

“…Bahwa akan meninggalkan politik setelah Paduka mangkat? Saya, bidam…memang bakal melakukan hal semacam itu?”.

Bidam berkata jika mereka tidak lagi mempercayainya silakan mereka mencari pemimpin baru untuk mereka. Jika tidak mereka harus mengikuti perintahnya.


Chun chu berkata pada ratu bahwa walau Yang Mulia mempercayai Bidam tapi kelompoknya mungkin tidak mempercayainya lagi. Dan Bidam tidak akan dapat mengontrol kelompoknya lagi.

Ratu berkata dia masih memberi kesempatan kepada Bidam karena sejak dulu Bidam mengikutinya, dia kerap ditugasi pekerjaan-pekerjaan muslihat seperti itu.

Ratu sakit hati akan apa yang menimpa Bidam kali ini. Dan berharap Chunchu bersimpati pada Bidam. “Karena Dia mencintai aku, cintanya dimanfaatkan orang lain.”

“Apakah kamu mengakui bahwa Bidam dan Saya telah menderita untuk kamu?”

“Saya mengakuinya yang Mulia, tetapi saya tidak bersimpati pada Bidam. Karena Ibu Bidam, Mishil, telah membunuh ibuku, ayahku dan kakekku.”

“Bagaimanapun Bidam itu adalah musuh politik saya”, kata Chunchu.


Bidam menyeleksi para kurirnya. Ternyata dari 10 kurir hanya 3 orang yang bisa dia percaya. Sisanya mereka bekerja pada bawahannya Yeom Joong.

Kelompok Bidam mengadakan pertemuan. Mereka membahas pengganti ratu. Mereka berkata hanya ada dua calon kuat yaitu KimChun Chu dan Bidam. Keluarga Mishil tidak mungkin memilih Chunchu, karena yakin Chunchu pasti akan menghabisi mereka segera karena terlibat kematian orang tuanya. Oleh karena itu mereka sepakat mencari cara untuk bisa tetap mengontrol Bidam dipihak mereka.


Bidam mendapat informasi yg mencurigakan bahwa terjadi rekruitmen pekerja tambang besar-besar oleh Yeomjeong. Yushin juga mencurigai hal yang sama. Anak buah Yushin mencoba menyelidiki hal itu. Namun mereka diserang oleh sekelompok orang yang akhirnya diketahui ternyata orang-orang Saryangbu.

Bidam meminta Yushin mempercayainya dan menyerahkan hal itu padanya.

Malamnya Bidam dengan seorang kepercayaannya berangkat menyelinap ke pertambangan, Di sana dengan matanya sendiri Bidam melihat bangsawan kelompoknya telah merekrut prajurit ilegal dan melatihnya diam-diam.

Bidam menyesal bahwa dia ternyata telah memelihara orang-orang yang salah selama ini. Dan bidam berencana besok malam dia akan menyerang pertambangan dan menghabisi mereka semua.


Bidam menemui Yushin dan meminta tolong Yushin untuk memberinya 1000 pasukan untuk melaksanakan rencananya. Bidam bertekad untuk menyelesaikan masalah ini untuk Yang Mulia.


Keesokan paginya muncul kehebohan karena datangnya perahu yang disinyalir perahu keramat milik raja Ashoka dengan muatannya sebuah peti berisi pesan di dermaga. Kejadian ini oleh rakyat disamakan dengan pertanda baik pada era Raja Jinheung. Isi Peti dibawa ke istana. Bidam mengambil dan membacanya. Raut mukanya berubah tegang.

QSD ep. 58 QSD episode 60

Queen Seon Deok Episode 58


Cinta Bidam terhadap Deokman



Pasukan Yushin berhasil mengguli lawan di Apryang Gu


Bidam menemui Deokman. Dia membawa dua gulungan dokumen yang berisi sumpahnya. Satu gulungan untuk ratu dan satu untuk Bidam. Bunyinya
“Jika ratu lebih dulu meninggal dari saya, Saya, Bidam, akan mengabaikan semua masalah politik dan kekuasaan dan meninggalkan dunia sekuler”.
Bidam tau bahwa hal inilah yang sebenernya dirisaukan ratu. Dan bagi Bidam tidaklah sulit membuat sumpah ini.
Deokman terharu dan menanyakan alasannya.
“Jika dunia ini tanpa Yang mulia, bahkan Negeri Suci pun tak ada artinya. Sehingga mengapa saya harus peduli dengan politik dan kekuasaan?”

Pasukan Yushin berhasil memukul mundur pasukan musuh. Bahaya besar sementara sudah lewat. Semua orang lega. Ratu meminta Yushin sementara kembali ke Sorabol.

Ratu mengadakan pertemuan resmi. Selama ancaman perang masih berlangsung, Ratu meminta semua pasukan yang masih di bawah komando para bangsawan di bawah Sangdeudeung Bidam agar diserahkan ke bawah komando Kim Yu Shin.
Dan kemudian ratu mengumumkan bahwa dia bermaksud menikah.
“Saya akan menikahi Bidam”, kata Yang Mulia.
Semua terkejut termasuk Bidam. Kim Chun Chu tidak menyukainya.

Ratu mengapresiasi Yushin atas keberhasilannya di medan perang.
Yushin berpapasan dengan Bidam. Bidam berkata bahwa Yang Mulia masih lebih mempercayai Yushin. Yushin berkata bahwa hanya Bidam yang dapat memperhati
Kan dan mendampingi Yang Mulia. Yushin memberi selamat kepada Bidam.

Kim Chun Chu bersama ratu. Dia masih tak percaya kepada Bidam. Ratu menunjukkan gulungan sumpah Bidam. Untuk jaminan Kim Chun chun ratu membuat salinan sumpah Bidam. Dan Yang berkata jika bidam mengingkari janjinya bunuhlah Bidam.


Bidam mendapati ratu masih membaca dan belum beristirahat. Bidam memintanya tidur beristirahat. Deokman berkata dia tidak bisa tidur. Bidam menuntunnya ke ranjang dan memintanya tidur. Deokman berkata dada yang selalu berdebar membuatnya sulit tidur. Bidam bertanya sebabnya. Deokman berkata dia cemas apa yang terjadi esok. Bidam menaruh tangannya di dada Ratu.
“Apa dada yang Mulia masih berdebar?”.
“Tidak”, jawab deokman.
Bidam menepuk-nepuk dada ratu dengan lembut. Bidam akan menemani ratu sampai tertidur.
Deokman bercerita waktu di gurun pun di sulit tidur.
Bidam bertanya “Apa dulu Yang mulia juga cemas?”
Menurut deokman walau dia tidak cemas dia selalu penasaran apa yang akan dihadapinya esok.
Deokman akhirnya tertidur, Bidam pergi.

Bidam mengambil buku-buku map tiga kerajaan tulisan guru Munno. Dia memperlihatkan buku-buku tersebut kepada Yushin. Yushin bagai tak percaya bahwa ada buku berharga seperti itu. Bidam meminta Yushin untuk membaca dan mempelajarinya, Dan berharap supaya Yushin bisa menolongnya suatu saat.

Yeom Jeong anak buah Bidam panik saat dia mengetahui bahwa buku-buku map tiga kerajaan sudah tidak ada di tempatnya. Dia takut Bidam memberikannya kepada Kim Yu Shin. Yeom Jeong terus mencari buku itu di ruangan-ruangan Bidam. Kemudian dia berusaha membuka sebuah peti dan tidak juga berhasil menemukan buku itu. Namun dia penasaran membaca sebuah gulungan. Dia terkejut isi gulungan itu sumpah rahasia atara Bidam dan ratu. Yeom Jeong tidak senang dan panik, dia membangunkan misaeng tengah malam.

Pagi-pagi sekali Yeom Jeong dan Misaeng memanggil para bangsawan dalam faksinya. Mereka membocorkan sumpah rahasia Bidam. Para bangsawan kecewa merasa dikhianati Bidam karena mereka sudah terlanjur menyerahkan semua sisa pasukannya kepada Yushin. Dan tidak ada jaminan posisi bagi mereka di masa depan.
Mereka ingin protes kepada  Bidam. Namun Misaeng merasa protes langsung tidak ada gunanya. Misaeng dan YeomJong memikirkan cara licik lain untuk menjebak dan memojokkan Bidam.

Mereka mengadakan kesepakatan palsu dengan utusan dari Kaisar Tang dengan mengatasnamakan Bidam tanpa sepengetahuan Bidam. Mereka menggunakan tinta bulu kipas rahasia untuk menulis perjanjian .(Ko paman tega ya sama ponakan sendiri, beda banget sama seolwon yang cuma pacar ibunya)

Utusan kaisar Tang datang. Mereka menyapa Ratu dan memberi hadiah. Utusan merasa prihatin dengan peperangan Shilla. Kemudian utusan itu membicarakan akan ada hubungan erat dengan Shilla. Ratu meminta penjelasan lebih lanjut.
Utusan berkata mungkin karena rajanya seorang wanita jadi kerajaan lain memandang rendah Shilla. Utusan berkata bahwa Kaisar akan mengirim kerabatnya untuk dinikahkan dan menjadi Raja di Shilla.
Ratu marah dan minta Alcheon menahan utusan sampai dia mendapatkan konfirmasi mengenai kebenaran hal ini dari kaisar Tang.

Bidam mengadakan pertemuan dengan para pejabat dibawahnya. Dia tidak suka karena utusan Tang berusaha merendahkan Yang Mulia. Akhirnya Bidam tahu bahwa para utusan itu berbicara demikian karena telah diatur oleh para bawahannya. Bidam marah karena mereka berani beraninya membuat perjanjian rahasia dengan menyalahgunakan namanya.

Utusan Tang menyuruh penjaga menyerahkan kipas bulu kepada Sangdeudeung. Alcheon melaporkan dan membawanya dahulu kepada ratu.. Chunchu curiga terhadap bulu kipas itusebagai alat menyimpan pesan rahasia. Chunchu menguapi kipas itu lalu menempelkannya di kain putih. Dan tercetaklah isi perjanjian rahasia itu.
Perjanjian itu berisi bahwa jika utusan berbicara dihadapan para pejabat mengenai kerugian raja wanita maka Shilla akan mengirimkan bantuan 3000 tentara kepada tang jika mereka berperang melawan Koguryo. Dan tertulis perjanjian itu dibuat antara kedua utusan raja Tang dan Sangdeudeung Negeri Suci.

Vierra: Perih

Lagu kesayangan mama dan Adam

December 23, 2009

Siap-siap ...QSD Final Episode

Siap-siap...siap-siap...untuk drama The Great Queen Seon Deok episode 62 atau episode terakhir.
Siap-siap untuk kemungkinan terburuk cerita ga berakhir happy ending buat Bidam and Deokman.
Sejarah sendiri emang mencatat Bidam sebagai pemberontak dan Kim Yushin serta Kim Chun Chu sebagai pencatat sejarah penyatuan tiga kerajaan Korea.


Walau mungkin tidak se- happy ending Dae Jang Geum (Jewel in The Palace), penggemar berharap ada secercah romansa manis di akhir cerita ini. Drama ini sempat mencapai rating lebih dari 40% korea, namun rating mulai sedikit menurun setelah episode kematian Mishil.
Queen Seon Deok session tiga (episode tambahan 51-62) ini  lebih menekankan pada karakter Seon Deok, Yushin , Bidam dan Chun Chu. Juga hubungan asmara Bidam dan Seon Deok.

Jadi bagaimana kisah ini berakhir..berakhir tragiskah bagi Bidam? Akankah kesalahpahaman antara Deokman dan Bidam terselesaikan? Apakah mereka mungkin bersatu?
Apapun itu buat penggemar Bideok tariklah nafas dalam-dalam sebelum menontonnya..

Selamat nonton ya...

QSD ep.62(Final)

December 22, 2009

Queen Seon Deok episode 57: Antara Deokman, Yushin, Bidam.

buat bideok, episode 57 ini harus ditonton!

Semua terlihat terkejut mendengar keputusan Ratu untuk menugaskan kembali Kim Yu Shin. Termasuk Bidam yang terlihat kecewa dan frustasi.
Yushin menerima tugas Ratu tetapi bertanya-tanya karena dia masih seorang kriminal. Kim Chun Chu berkata bahwa Bok ya Hoe telah bubar.
Pasukan Wolya datang ke istana menghadap Ratu dan menyatakan kesetiannya。Wolya menyerahkan list nama anggota bo kya hoe. Para pejabat menyangsikan kesetiaan Bo kya hoe. Ratu menjelaskan bahwa dia telah memusnahkan daftar orang-orang Gaya. Ratu menjamin bahwa tidak ada orang Gaya lagi semua akan menjadi rakyat Shilla。Ratu juga memusnahkan list anggota Bok Ya Hoe.

Bidam menemui Yushin. Mereka membicarakan kecepatan pergerakan pasukan musuh yang rasanya mustahil.. Menurut Bidam itu tidak bisa dicapai tanpa sayap di kudanya. Bidam memberi tahu Yushin bahwa tidak mungkin ada kejadian yang mustahil seperti itu.
Yushin heran mengapa Bidam memberitahunya. Bukankah Bidam ingin melihatnya kalah?
“Kamu harus menang”, ujar Bidam. “Demi paduka dan Negeri Suci kita”

Bidam meminta ratu untuk mencari tempat persembunyian demi keselamatan ratu dan keluarga kerajaan. Bidam menganggap Negara dalam keadaan darurat ratu harus mengungsi sebelum terlambat. Biar Bidam dan SaryangBu yang mempertahankan Sorabol.

Ratu tidak mau meninggalkan istana Sorabol. Paduka menyuruh Chunchu pergi mengungsi ke tempat rahasia. Seandainya Sorabol ditaklukan ChunChu lah yang harus memimpin penyerangan. Ratu ingin tetap tinggal di istana bersama Bidam.
Dam untu
Ratu memanggil Bidam. Bidam mengutarakan rencana pengungsian Ratu ke tempat rahasia. Ratu menyuruh Bidam hanya mengungsikan Chunchu. Andai terjadi sesuatu terhadap Sorabol Bidam harus membantu Chunchu memimpin perang.
Bidam berkata bahwa dia bukan Kim Yu Shin dia tidak bisa membagi antara Chunchu dan Paduka..
“Apa Yang Mulia tidak mempercayai saya?, desak Bidam.
“Bukan begitu”
“Jika begitu kenapa Yang Mulia tidak menatapku?. Sayalah orang yang tega membawa ibuku kepada kematiannya, hanya untuk Paduka, Yang Mulia.”
“Jadi kamu membenciku?”, kata Deokman.
Bidam kecewa.
“Paduka telah berubah. Dulu pertama kali bertemu ketika aku menukar Yang Mulia dengan obat. Selanjutnya Yang Mulia mengucapkan terimakasih…terimakasih…padaku. Apapun alasannya itu kata pertama yang pernah aku terima, padahal orang lain biasa mengutukku. Ketika orang-orang menganggapku tidak sopan, Yang Mulia menganggapku berani. Ketika dunia menganggapku licik, Yang Mulia menganggap itu taktik yang jitu.
Di hari kematian ibuku Yang Mulia tidak memarahiku ketika aku terlihat menyesal..Yang Mulia malah menyentuhku dengan lembut.”
“Hentikan..hentikan!”. Deokman tidak sanggup mendengarnya.
“Tapi mengapa?”,, desak Bidam. Mengapa Yang Mulia sekarang menganggap ketulusan saya sebagai taktik dan kesungguhan saya sebagai keinginan untuk mengambil alih Sorabol?”l
“Ketulusanku…Apakah yang mulia tidak bisa melihatnya lagi?”, Bidam menahan tangis dan pergi.

Deokman mengingat kembali saat-saat awal bertemu Bidam. Dia ingat beberapakali Bidam telah menyelamatkan nyawanya. Dan mengingat dia pernah mengalami saat-saat yang manis bersama Bidam.

Yushin memimpin di medan peperangan. Mereka membahas tentang rahasia kecepatan pasukan khusus lawan dan menjajal kekuatannya. Akhirnya mereka Yushin berhasil memecahkan rahasia itu.

Bidam menemui Ratu dan menanyakan apa ratu telah berubah pikiran dan bersedia mengungsi?
Tapi deokman bercerita hal yang lain. Di mulai dari saat dirinya diketahui sebagai putri , dia dikejar, ingin dibunuh, tapi juga ada yang berusaha melindunginya. Orang yang melindunginya pun ada yang mati tepat di depannya. Orang-orang yang tersisa semua berlutut dan berbicara dengan sopan kepadanya.
“Suatu hari kamu muncul, kamu. tak tau kenapa berbicara kepadaku bahasa yang biasa. Saya pun membiarkannya sampai suatu saat. Dengan demikian saya bisa merasa menjadi diri saya yang dahulu”
“Bahkan sesampai kita di istana pun kamu memegang tanganku dengan penuh perhatian, menyentuhku dan membuatku nyaman. Saat melihatmu saya merasa seperti diri saya yang dulu”.
“Tapi apa yang terjadi sekarang”, tanya Bidam.
“Itu terjadi saat saya kehilangan nama. Putra mahkota, putri, bahkan preman jalanan pun mempunyai nama. Tapi saya hanya Paduka yang Mulia. Tidak ada yang bisa memanggil namaku.
“Saya akan memanggil namamu Yang Mulia.”
“Bahkan walau kau memanggil namaku dengan cinta, dunia akan memanggilmu penghianat”
“Dan mengapa saya berubah? Pada momen saya kehilangan nama, kamu pun harus menjadi salah satu dari orang-orangku yang bersaing untuk mendapat kedudukan. Dan saya pun harus menyelidiki dan mengawasimu, agar kamu tidak menjadi seperti Mishil. Walau bagaimanapun saya ingin percaya padamu saya harus curiga kepadamu.


Tapi taukah kamu betapa hal itu sulit bagiku. Saya begitu ingin percaya padamu dan bergantung padamu”
Doekman menangis. Bidam meraih lengan deokman dan memegangi tangannya.

Deokman menyusul Bidam yang sedang berdoa di altar Mishil. Deokman mengakui bahwa dia membutuhkan Bidam. Dia butuh seseorang yang memarahinya dan memperhatikannya. Seseorang yang memandangnya, menyentuhnya dan memegang tangannya yang gemetar.
Deokman merasa dia sudah berusaha menekan dan menghalangi perasaannya karena katanya seorang Ratu tidak patut punya perasaan seperti itu.
“Hanya kamu satu-satunya yang memandang saya sebagai seorang manusia sebagai seorang wanita dan saya menyukainya. Apakah boleh saya menyukai itu?”
Bidam memeluk Deokman dengan kasih sayang.

Ratu mengambil keputusan dalam keadaan darurat. Sehubungan ratu akan bertahan di Sorabol bersama Bidam, ratu mempromosikan Bidam menjadi Sangdeudeung (kepala para bangsawan) dan memerintahkan para bangsawan yang masih mempunyai pasukan agar menyerahkan pasukannya kepada Bidam.
Kim Chun Chu tidak senang. Dia tidak mau ratu percaya pada Bidam. (siapa sebenernya yang dikhawatirkan Chun Chu, ratu atau dirinya sendiri?)

Bidam berdoa di altar Mishil ibunya. Dia berkata bahwa ibu tidak perlu khawatir tentang dia akan memiliki Negara untuk memiliki seseorang. Jalan menuju tahta dan cita-cita mengukir nama dalam sejarah tidak sebanding dengan air mata Deokman.
“Aku akan menjemputnya bukan memiliki dia, akan melepaskan semuanya dan aku akan menemaninya.”

QSD ep. 56                                                                       QSD ep.58

Queen Seon Deok episode 56: Antara Deokman, Yushin, Bidam.

Bidam berkata bahwa dia akan menyelamatkan Negeri Suci, Paduka dan rakyat.
Dan Ratu berkata bahwa orang yang bisa melaksanakan semua itu akan mendapatkan semua kekuasaan

Bidam berkata pada Seolwon bahwa beliau harus memenangkan perang demi menyelamatkan negara dan diri mereka.

Seolwon memohon pada ratu jika dia pulang membawa kemenangan dia ingin kekuasaannya dikembalikan lagi. Seolwon berkata dia ingin menjadi bagian dari mimpi penyatuan ke tiga kerajaan. (Karena terlibat perlawanan mishil dia dicopot dari jabatan). Selain itu Seolwon meminta Ratu menikahi Bidam.
Ratu khawatir akan hati dan cinta Bidam. Ratu mengambil contoh raja Jinheung yang dengan segala pencapaiannya hanya satu kelemahannya yaitu dengan manusia. Satu-satunya orang kerpercayaan Raja, Mishil, menghianati dia, dan Mishil dikelilingi orang-orang yang lebih mencintai Mishil dibanding Negari Suci

Sebelum pergi Seolwon menemui Yushin ditahanan membicarakan tentang rencana perang. Yushin meminta Seolwon berhati-hati karena kecepatan dan kemampuan pasukan lawan telah banyak kemajuan.

Misaeng dan Bojong khawatir akan kondisi Seolwon yang sudah tua dan sakit tidak layak berperang lagi. Bojong merasa Seolwon berbuat berlebihan untuk Bidam walaupun itu demi wasiat Mishil (Mishil ingin Seolwon menjadikan Bidam seorang Raja)

Seolwon pergi ke altar Mishil. Dia bercerita bahwa Bidam menyerupainya dalam hal yang selayaknya tidak perlu. Yaitu cinta. (sama-sama cinta mati.. duh) ,Seharusnya Dia meniru Mishil saja yang menganggap cinta itu selayaknya milik burung-burung saja. Seolwon merindukan Mishil.

Ratu mencari akal agar dia bisa kembali menarik Yushin kembali memimpin pasukan. Dia teringat saran Kim Chun Chu bahwa tidak mungkin memisahkan Yushin dari Gaya.

Seolwon memimpin pasukan Yushin, tetapi mereka diserang dan kewalahan. Mereka terpaksa mundur sebelum sempat menjalankan strategi mereka.
Deokman cemas, Bidam tertekan. Seolwon dan pasukannya Yushin pulang dengan kekalahan dan luka. Seolwon melapor bahwa Baekje sekarang mempunyai pasukan gerilya yang hebat.
Mereka juga mengabarkan pasukan Yushin panik dengan kecepatan pergerakan pasukan lawan yang tidak masuk akal, bagaikan hantu. Pasukan dihinggapi rasa takut menghadapi “pasukan hantu”.

Bidam prihatin mendampingi Seolwon yang terluka parah. Seolwon meminta maaf kepada Bidam. Dan Seolwon juga meminta Bidam menjalankan wasiat terakhir Mishil.
Seolwon menasehati Bidam bahwa jangan menggantungkan tujuan hidupnya kepada seseorang. Menggantungkan mimpi kepada orang itu berbahaya. Bidam harus mempertahankan ambisi yang lebih besar dan bahkan mimpi yang lebih besar lagi. Dia nanti akan selalu menjadi orang kedua.
Seolwon pun akhirnya meninggal dunia.

Ratu dan Chunchu bergerak diam-diam dan melakukan perundingan rahasia dengan pemimpin Bo Kya Hoe, Wolya. Ratu berjanji bahwa dia akan menghilangkan diskriminasi bagi rakyat Gaya termasuk dari segi administrasi. Ratu berjanji dia bisa memusnahkan data registrasi rakyat Gaya sehingga tidak mungkin raja setelahnya bisa bertindak diskriminatif lagi. Namun raja mengajukan syarat bahwa mereka tidak boleh mendukung Kim Yu Shin menjadi raja tetapi harus mendukung Kim Chunchu sebagai pewaris tahta. Selain itu mereka diharuskan menyerahkan list anggota Bok ya hoe. Ratu meminta Wolya datang lagi berunding dengan keputusan yang benar.

Deokman diam-diam mengutus Jukbang untuk mengikuti Wolya sampai ke tempat persembunyian Bok ya hoe.

Bidam marah karena pejabat-pejabat sudah mulai berpikiran bahwa Negara harus mengirim Yushin kembali memimpin pasukan.
Yushin bersikukuh bertemu Bidam , Yushin dengan serius terus memikirkan strategi pertempuran dan menggambar peta pertempuran walau di dalam tahanan. Yushin menjelaskan strateginya kepada Bidam. Bidam berpaling. Yushin menekan Bidam dan berkata Bidam boleh membunuhnya atau melucuti pasukannya hanya jika Bidam telah menyelamatkan Negeri Kudus mereka. Bidam merasa kembali dikalahkan oleh Yushin.

Bidam menemui ratu. Dan membicarakan strateginya (yang didapat dari Yushin) dan
Berkata Bangsawan Jujin yang akan melaksanakannya di medan perang. Bidam ingin ratu tenang bahwa dia akan menyelamatkan Negeri Suci apapun yang terjadi. Namun Deokman terkesan meragukan Bidam.

Malam harinya ratu dan Kim Chun Chu bergerak lagi secara rahasia. Wolya yang ditunggu tidak datang di perundingan berikutnya. Ratu dikawal alcheon nekad memasuki sarang Bok ya hoe untuk menekan terjadinya kesepakatan. Ratu membawa daftar nama orang-orang gaya dan membakarnya di depan mereka. Selanjutnya Ratu mempercayakan semuanya pada Kim Chun Chu.

Ternyata Bangsawan Jujin pun gagal melaksanakan rencana Bidam (strategi Yushin). Pasukan Shilla kembali dikalahkan. Pasukan Baekje dengan kekuatan besar memasuki wilayan Apryangju. Sorabol pun dalam bahaya. Para pejabat menyarankan ratu segera mengirimkan bantuan pasukan ke Apryang Ju

Akhirnya Pasukan Wolya,Bok Ya hoe, datang ke istana dan memberikan kesetiannya pada Kim Chun Chu dan Ratu. Bidam tidak menyangka ratu dan Kim Chun Chu bergerak diam-diam.
Ratu memanggil Yushin. Yang Mulia menugaskan kembali Yushin sebagai panglima pasukan perang. Yang Mulia meminta Yushin menjaga wilayah kerajaan dan menyelamatkan Negeri Suci mereka.

Bidam merasa jadi pecundang di antara Yushin dan Deokman.

QSD ep. 55                                                                    QSD ep.57
Related Posts with Thumbnails